Soal Kedaulatan, Tak Ada Kompromi
China belakangan ini memperlihatkan kehebatan Negara itu di semua lini, keperkasaannya dalan bidang ekonomi tidak diragukan lagi; meskipun soal mutu produk china masih banyak kelemahannya, akan tetapi dipercaya kualitas itu akan kian menemukan wujudnya seiring dengan gencarnya upaya negeri itu memperkuat kualitas produknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Negara itu dalam hal kedaulatannya.
China menyatakan tidak akan ada kompromi soal kontrol China atas Tibet. Kepada utusan Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet, China menyatakan tidak akan memberikan konsesi soal kedaulatan Tibet. ”Kepentingan nasional (China) tidak bisa dilanggar dan tidak ada ruang untuk diskusi soal isu kedaulatan nasional dan teritorial,” sebut pernyataan Pemerintah China, seperti dikutip kantor berita Xinhua, Senin (1/2).
Dua utusan Dalai Lama, Lodi G Gyari dan Kelsang Gyaltsen, tiba di China pada 25 Januari 2010, untuk pembicaraan putaran kesembilan sejak proses dialog rahasia dimulai tahun 2002. Keduanya kembali ke India, markas pemerintahan Tibet di pengasingan. Pertemuan utusan Dalai Lama dan pejabat China itu merupakan yang pertama dalam 14 bulan terakhir. Akan tetapi, dari laporan Xinhua tampaknya tidak banyak kemajuan yang dicapai. Kedua utusan Dalai Lama berada di Beijing setelah China mengemukakan pendekatan kebijakan baru yang untuk pertama kalinya memasukkan seluruh wilayah Tibet, begitu pula wilayah di luar Wilayah Otonomi Tibet.
Du Qinglin, pejabat Partai Komunis China yang bertanggung jawab soal kelompok religius dan etnis, mengatakan, Pemerintah China tidak akan pernah mundur dari klaim kedaulatan penuh atas Tibet.
Pada putaran terakhir pertemuan pejabat China dan utusan Dalai Lama pada November 2008, Tibet menyerahkan memorandum yang menegaskan bahwa tuntutan mereka soal otonomi selaras dengan konstitusi China. Pada waktu itu, China menyatakan tidak akan berkompromi soal posisinya bahwa Tibet adalah bagian integral dari China. Namun, China menyatakan membuka pintu dialog pada masa mendatang.
Menanggapi sikap China yang tidak mau berkompromi, pemerintahan Tibet di pengasingan berpendapat bahwa keberatan China soal kedaulatan Tibet salah sasaran karena Tibet menghendaki otonomi, bukan kemerdekaan. ”Kami tidak berharap Tibet sebagai negara berdaulat,” kata juru bicara pemerintahan Tibet di pengasingan, Thubten Samphel. Shampel mengatakan, pemerintahan Tibet tidak pernah mencari konsesi apa pun soal isu kedaulatan dan hanya menginginkan otonomi wilayah. ”Kami telah menjelaskan kepada mereka bahwa Tibet akan menikmati otonomi dan ini telah kami sampaikan kepada pihak China,” ujarnya. Kalau selama ini kita selalu diingatkan untuk belajar sampai ke negri China, maka itu memang benar adanya. Dalam hal kedaulatan, Indonesia perlu dan belajar dari China bagaimana mengkomunikasikan masalah kedaulatan kepada musuh-musuh politiknya. Harus ada kejelasan dan keteguhan bahwa NKRI itu adalah harga mati, otonomi atau otonomi khusus itu tidak jadi masalah sejauh ia masih dalam satu kesatuan NKRI. Begitu saja kok susah sekali mengejawantahkannya. .(Sumber: kompas/afp/reuters/xinhua/fro, 2/2/ 2010 ).






