Perbatasan Wilayah, Pemicu Konflik di Kawasan
| Momen pertemuan Asia-Europe Meeting (ASEM) di Brussels, Belgia, pekan depan, diyakini akan dimanfaatkan untuk itu.
Kesempatan tersebut diyakini bukan tidak mungkin bakal dimanfaatkan oleh kedua pemimpin negara untuk menggelar pertemuan sampingan di sela-sela sejumlah agenda acara resmi. Seperti diwartakan, cekcok di antara keduanya semakin lebar dan saling berbalas, mulai dari aksi saling tangkap warga negara masing-masing dengan tuduhan pelanggaran wilayah teritorial sampai ke aksi saling ancam macam gertakan China untuk menyetop ekspor mineral langka logam tanah jarang mereka ke Jepang. Padahal, sumber konflik utama keduanya justru terkait masalah sengketa kepulauan, yang berada di kawasan perairan Laut China Timur, yang memang telah diperebutkan sejak lama. Kepulauan itu oleh masing-masing pihak punya nama sesuai bahasanya, Kepulauan Senkoku (bahasa Jepang) atau Kepulauan Daiyou (bahasa China). Sengketa seperti ini, sebenarnya adalah sengketa yang sangat khas di kawasan; di kepulauan spratly, china bersengketa dengan enam Negara lain; Indonesia juga punya sengketa serupa dengan Negara-negara tetangganya. Para ahli strategi percaya bahwa konflik yang paling mungkin di masa datang di kawasan adalah konflik yang berawal dari sengketa batas. China Ingin Di hargai Kalau kita perhatikan secara hati-hati China sebenarnya tidaklah seagresif yang sering di beritakan para pengamat; persoalannya mereka hanya ingin di harga, khususnya oleh Negara-negara barat dan tentu saja Jepang. Secara perlahan sebenarnya yang muncul adalah nuansa bersahabat dari China dengan berbagai Negara tetangganya. Ke Taiwan, Presiden Hu Jintao mengirimkan putranya. Ini dianggap sebagai simbol persahabatan. Ke Jepang, China memberi panda untuk ditempatkan di sebuah kebun binatang di Tokyo. Ini juga dinyatakan oleh China sebagai simbol persahabatan. Berbagai pengamat sebenarnya bisa memahami gerak dan sikap China; misalnya menurut Dewi Fortuna Anwar, menurutnya; sikap agresif China tersebut bisa dipahami dengan latar belakang sejarah dan keberhasilan negara tersebut membangun kekuatan ekonomi dan militernya. ”China sudah terlalu lama menahan diri. Mereka merasa sejak dahulu selalu dipermalukan dan dihina Barat,” tutur Dewi. Permusuhan dua negara terjadi sejak perang China-Jepang pertama pada tahun 1890-an, kemudian Perang Dunia I dan II. Permusuhan memang sudah mengakar. China dengan segala hasil capaian pembangunannya ingin di hargai. Barangkali ada kesamaannya dengan Indonesia, yang tidak bisa terima kalau Negara seperti Malaysia begitu melecehkan lewat kebijakan TKI/TKW nya dan juga perlakuannya terhadap wilayah NKRI. Namun, di sisilain ada juga yang melihat bahwa sikap agresif China disertai sikap meremehkan kekuatan negara lain bisa berbahaya bagi China sendiri; sikap seperti ini dalam jangka panjang. Sikap meremehkan itu, antara lain, bisa dilihat dengan sikap ngotot China memperpanjang kasus tabrakan kapal dengan Jepang atau klaim teritorial China atas pulau-pulau di Laut China Selatan. ”China meremehkan reaksi regional dan internasional. Saat ini saja sudah terlihat reaksi balik terhadap China, misalnya dari sikap negara-negara ASEAN yang mulai mendekat dengan AS. Jika China bertahan pada sikapnya sekarang, ASEAN bisa berkonsolidasi untuk menghadapi China,” . Fakta ini memperlihatkan bahwa garis batas Negara di wilayah perbatasan sangat sensitive terhadap berbagai profokasi dan sangat potensil untuk menjadi trigger konflik. Hal ini sebenarnya dapat juga kita lihat dari berbagai konflik yang muncul di daerah, yakni konflik batas antar daerah; baik itu karena antar kabupaten, ataupun antar provinsi. Karena itu, upaya untuk melaksanakan penagsan dan penetapan batas adalah sesuatu yang sangat mendasar, dan kemudian memanfaatkan wilayah perbatasan tersebut menjadi suatu pusat kerjasama ekonomi yang memberikan kesejahteraan bagi kawasan tersebut. |







2 Responses to “Perbatasan Wilayah, Pemicu Konflik di Kawasan”
kawasan on October 30, 2010
Ramalan bahwa konflik karena garis perbatasan yang tidak jelas atau yang belum tuntas antar negara maupun antar daerah, adalah sumber konflik kawasan di masa datang kian terlihat secara jelas; karena itu wajarlah hendaknya agar pihak-pihak yang punya kewenangan di dalam hal ini cepat bertindak dan bekerja dengan secara profesional; khususnya bagi BNPP, badan nasional pengelola perbatasan; apakah anda juga setuju?
wahyu on January 7, 2011
Jika China bertahan pada sikapnya sekarang, ASEAN bisa berkonsolidasi untuk menghadapi China
saya suka statemen ini….