Perbatasan, Sumber Konflik di Kawasan

Kalau kita melihat Asean atau khususnya Asia Tenggara dari kacamata diplomasi, maka apa yang dituliskan Rene L Pattiradjawane (4/8/2010) mungkin bisa membawa kerangka berpikir kita bahwa Asean itu adalah suatu lingkungan yang damai;  menurutnya ASEAN  kini sudah  berusia 43 tahun dan menjadi matang dari segi usia sebagai organisasi regional yang sedang berkembang dan salah satu yang paling dinamis selama dua dekade terakhir. Keanggotaan ASEAN pun berkembang, bertambah dengan masuknya kemudian negara-negara termasuk Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, dan Brunei Darussalam. Organisasi ini didirikan oleh Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, dan Malaysia di tengah Perang Dingin tahun 1967 dan saat kampanye anti-komunis sedang gencar-gencarnya, ASEAN memasuki abad ke-21 dengan lebih percaya diri.
Walau menjadi kawasan yang relatif damai, berbagai konflik di Asia pada umumnya dan Asia Tenggara khususnya sulit diatasi dengan intervensi koersif. Cara itu dianggap sebagai pengelolaan yang tidak memadai untuk kawasan ini. Salah satu sebabnya, sejak awal ASEAN meletakan non-intervensi sebagai norma utama. Aksi koersif menjadi bentuk intervensi terakhir ketika terjadi konflik atau krisis di kawasan ini. Berbagai krisis satu dekade terakhir seperti perselisihan wilayah Thailand-Kamboja, krisis pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar, diatasi lewat mekanisme resolusi yang digelar mengikuti naluri krisis yang terjadi tanpa memaksakan diri ikut menyelesaikan.
Hal ini antara lain juga didorong sehubungan dengan posisi Asia Tenggara dan Asia Timur sebagai kesatuan wilayah ekonomi, perdagangan, sosial, dan politik, dan memiliki sifat politik internasional yang canggih. Tidak ada satu negara atau organisasi internasional pun yang mampu mengontrol atau mengancam penggunaan kekuatan untuk menyelesaikan pertikaian.

Sumber Konflik

Tetapi sesungguhnya, di Asean banyak sekali persoalan yang bisa berubah dengan cepat menjadi suatu sumber konflik, lihat misalnya masalah Laut China Selatan; Rene melanjutkan;

Sejak berakhirnya Perang Dingin, tidak ada kekuatan yang mampu mengendalikan keseluruhan kawasan Asia, termasuk negara-negara besar seperti China dan AS yang masing-masing memiliki kekuatan militer yang masif. Ini juga menjelaskan langkah diplomatik Indonesia sebelum pertemuan Forum Regional ASEAN (ARF) yang menjadikan Laut China Selatan sebagai salah satu topik hangat di Hanoi, Vietnam. Laut China Selatan selama ini dianggap sebagai titik konflik sejumlah negara di kawasan karena klaim tumpang tindih yang belum mencapai penyelesaiannya.

Pada tanggal 8 Juli lalu, Perutusan Tetap RI di PBB mengirim Nota Diplomatik yang pertama kali secara terbuka menantang klaim China atas seluruh wilayah Laut China Selatan. Protes ini disampaikan karena China mengklaim Laut China Selatan sebagai wilayahnya. Nota Diplomatik RI disampaikan kepada Sekjen PBB melalui Komisi PBB untuk Batas Landas Kontinen (CLCS). Nota itu secara jelas menandakan klaim China di Laut China Selatan tidak memiliki dasar hukum internasional dan melanggar kepentingan sah masyarakat global.

Indonesia sendiri tidak ikut memiliki klaim kedaulatan tumpang tindih di Laut China Selatan dan terlihat janggal ketika Indonesia menyampaikan Nota Diplomatik tersebut di tengah membesarnya otot diplomatik Beijing. Nota ini menyampaikan kekhawatiran Indonesia. Dalam pertemuan ARF di Vietnam, China menempatkan Laut China Selatan ini sebagai ”kepentingan nasional” setara Taiwan dan Tibet.

Nota Diplomatik CLCS oleh Indonesia ini sekaligus menandakan perubahan arah politik luar negeri Indonesia yang lebih asertif, tidak lagi seperti di era Orde Baru yang menjalankan kepemimpinan de facto atas ASEAN dalam bayang-bayang semata. Menjelang kepemimpinan Indonesia atas ASEAN sesudah Vietnam (Brunei Darussalam menyerahkan kepemimpinan periode berikutnya), kita semua harus mengerti bahwa ASEAN itu Indonesia, Indonesia itu ASEAN.


Sumber Konflik

Kalau kita belajar dari sejarah, maka masalah perbatasan adalah persoalan kedaulatan, tidak banyak warga yang dapat menyelesaikan masalah batas, termasuk batas antar persil atau antar rumah sekalipun, demikian juga antar batas Provinsi, antar Kabupaten dan seterusnya. Pengalaman Depdgari selama ini, dalam penyelesaian sengketa batas menunjukkan, dari berbagai pemda yang mempunyai masalah batas, boleh dikatakan belum ada yang dapat diselesaikan dengan baik. Artinya, kedua belah pihak bisa menerima. Apapun caranya, selama kesepakatan belum ada maka batas tidak akan pernah selesai.

Di kawasan Asean sendiri, konflik, ketidakamanan, dan ketidakstabilan politik masih menjadi kendala utama bagi pembangunan regional Asia, termasuk juga di ASEAN. Pemerintah dan segenap lapisan masyarakat seharusnya bekerja sama untuk mencegah dan mengatasi konflik itu. Demikian inti gagasan dari tiga pembicara kunci  dalam pembukaan simposium publik bertajuk ”World Development Report 2011: Lessons Learned from Conflict and Fragile Situations in Asia” di kantor Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin (5/4). Mereka adalah Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan, Menlu Singapura George Yeo, dan utusan khusus Bank Dunia, Sarah F Cliffe, yang juga Direktur World Development Report 2011. Simposium berlangsung dua hari hingga Selasa (6/4) dan terselenggara atas kerja sama Japan International Cooperation Agency (JICA), Bank Dunia, dan Sekretariat ASEAN. (Kompas/6/3).

Permasalahan batas antar Negara di lingkungan anggota sesama Asean sebenarnya banyak persoalan; permasalahan batas darat dan batas laut antara Indonesia dengan sepuluh Negara tetangganya, masih sangat potensial untuk jadi persoalan. Artinya sengketa perbatasan bagi masing-masing anggota Asean adalah sesuatu yang real, konkrit dan melelahkan. Celakanya, dari sisi pengalaman masing-masing, ternyata persoalan batas itu adalah masalah yang sangat sensitive. Artinya sangat jarang ditemui di kawasan ini yang dapat menyelesaikan masalah batasnya secara logis dan dengan menggunakan akal sehat; yang kuat itu biasanya adalah dorongan emosi, persepsi dan harga diri dari mereka yang bertikai. Mereka menaroh harga diri, kedaulatan di tapal batas. Dalam budaya yang seperti ini? Dapatkah Asean memberikan pencerahan yang konstruktif?

Setahun yang lalu Kamboja, mengatakan, akan meminta para pemimpin ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Hua Hin, Thailand, 23-25 Oktober, untuk membantu menyelesaikan pertikaian wilayahnya dengan Thailand. Pertikaian itu memicu aksi protes, bentrokan bersenjata, serta dikhawatirkan akan berkembang menjadi perang di perbatasan. Permintaan Kamboja itu seyogianya disambut dengan baik. Di usianya yang kian dewasa, para pemimpin ASEAN seharusnya berani mengambil tanggung jawab untuk membicarakan pertikaian perbatasan yang terjadi di antara mereka dan membantu mencarikan jalan untuk menyelesaikannya. Sayangnya, langkah seperti itu tidak muncul.

Sikap seakan-akan segala sesuatu di ASEAN berlangsung baik-baik saja, sudah harus ditinggalkan. Apalagi, sejak tahun 1976, ASEAN telah menandatangani Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia/TAC) yang merupakan code of conduct dalam menyelesaikan pertikaian di antara anggota ASEAN. Seharusnya, pertikaian perbatasan di antara negara ASEAN, termasuk pertikaian perbatasan antara Kamboja dan Thailand, diselesaikan dalam kerangka TAC. Namun, sejak ditandatangani di Bali pada tahun 1976, belum sekali pun ASEAN menggunakannya. Selama ini, negara anggota ASEAN lebih memilih untuk menyerahkan penyelesaian masalahnya kepada Mahkamah Internasional yang berkedudukan di Den Haag, Belanda.

One Response to “Perbatasan, Sumber Konflik di Kawasan”

  • kawasan on October 4, 2010

    ya setuju pak ali, kadang-kadang tanpa di sadari kita sendiri sudah masuk dalam sekatan itu…salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
  • RSS Harmen Batubara.com

    • Income Infuser Review, Make Money thru Membership Site May 19, 2012
      The guys behind Income Infuser are Dave Nayavich and Darren Salkeld, they invested more than $25,000 into this platform and more than a year putting this thing together to make it work and to offer to the public. The software is custom configured “ Membership Site Out Of The Box Concept” so members can easily upload and be selling with their own sales letter […]
      batubara
    • Membersnap Review, Build Your Niche Membership Websites May 12, 2012
      We all know WITH MEMBERSHIP SITES it will give you incredible results and are a great source of residual monthly cash flow, and with Member Snap all the dream really come thru. Now the choice is yours. Ask yourself what kind of membership website you want to produce. What niche really that market need? Are you just copy your competitor and deliver more? What […]
      batubara
    • Get Cash For Surveys Review May 5, 2012
      Come inside, and you will find there are 288 Surveys available for you! Just join their GetCashForSurvey site, and you will see some of surveys waiting for you! If you need an additional income or extra cash, this is the opportunity! Especially if you love creative work and you are artistic enough, you will have the chance to express your opinion on several […]
      batubara