Moammar Khadafy, Mencoba Melawan Takdir
Masih ingat Saddam Hussein di Irak? Bagaimanapun “simpati” masyarakat terhadapnya di saat-saat akhir kekuasaan nya, yang di kroyok Barat habis-habisan dan dipermalukan “rakyatnya” sendiri. Akhirnya tumbang juga. Babak penutup masa kekuasaan Saddam setelah bertahan dan jaya selama 24 tahun berahir, Paul Bremer, administrator kepala AS di Baghdad hari Minggu, 14 Desember 2003. Mengumumkan secara resmi penangkapan Saddam di sebuah gudang bawah tanah di Tikrit, Irak. Sadam menemukan takdirnya, setelah berupaya dengan semua daya untuk menantangnya.
Cerita itu kini seperti berulang kembali, dan sejatinya sejarah memang selalu berulang kembali. Kini, nasib itu menimpa Moammar Khadafy. Upayanya untuk bertahan hanyalah suatu upaya “melawan takdirnya” dan sesungguhnya takdir selalu menemukan jalannya sendiri. Sayangnya boleh dikata manusia sesungguhnya lemah, banyak dari mereka yang tidak bisa, tidak mampu berdamai dan sanggup membaca arah takdirnya. Orang bijak Lucius Annaeus Seneca, filsuf, negarawan, dan dramawan Romawi (4 SM-65 M) emngatakan: nasib menggiring mereka yang mau menurut, sebaliknya, nasib menjerumuskan mereka yang membangkang.
Menurut Trias kuncahyono (Kompas, 27/8/2011); Khadafy tergolong sebagai salah satu contoh yang ”membangkang”. Kekuasaan yang dipegangnya sejak tahun 1969 telah membuatnya lupa diri bahwa dalam semua keadaan, yang paling baik adalah tahu batas. Ia ”membangkang” dari kepantasan sebagai seorang pemimpin dengan menjadikan dirinya sebagai sosok yang harus dipuja-puja laksana dewa. Neil Machfarquhar menulis Khadafy memandang dirinya sebagai ”filsuf padang pasir” dan menyatakan bahwa sistem politiknya adalah ”sistem revolusi permanen” yang akan menggantikan kapitalisme dan sosialisme (International Herald Tribune, 26 Agustus).
Namun, ”sistem revolusinya” tak mampu menahan roda revolusi rakyat. Ia digulung roda revolusi yang bergerak berderak-derak didorong rakyat dari berbagai macam spektrum masyarakat, didukung kekuasaan asing yang penuh ketamakan, menjelajahi bumi Libya. Khadafy tak punya daya bertahan walau sekarang masih berteriak-teriak di padang gurun. Sampai kapan ia mampu bertahan? Akan lebih lama dari Saddam Hussein?
Jatuhnya Khadafy menambah model gerakan perlawanan rakyat, revolusi kekuatan rakyat di Timur Tengah. Revolusi di Libya berbeda dengan yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Irak. Di Libya, dua kekuatan—rakyat dan asing—bersatu menerjang Khadafy. Di Tunisia dan Mesir, sang penguasa—Zine al-Abidine Ben Ali dan Hosni Mubarak—harus berhadapan dengan rakyat yang bersatu melawan mereka. Sementara jauh sebelumnya, Saddam Hussein dijatuhkan oleh kekuasaan asing, AS!
Namun, persoalannya belum selesai di sini. Seperti kata Adam Michnik, tokoh antikomunis di Polandia yang juga Pemimpin Redaksi Gazeta Wyborcza, ”Hal yang paling buruk dari komunisme adalah apa yang muncul setelah komunisme tak ada.” Yang dihadapi Libya pasca-Khadafy juga setumpuk persoalan. Negeri itu adalah negara kosong tanpa lembaga politik. Jadi, kini Libya ibarat lahir kembali, mulai dari titik nol. Inilah revolusi. Revolusi Tripoli mulai dari titik nol. Mereka yang mau dan bijak dalam menerima takdirnya mau melakukan segalanya meski harus mulai dari Nol sekalipun.
Jatuhnya Simbol Kekuatan Kadhafy
Jatuhnya Bab al-Aziziya, kompleks tempat tinggal Kolonel Moammar Khadafy dan keluarganya di Tripoli, Libya, ke tangan pemberontak merupakan tanda akhir dari kekuatan Khadafy. Kejatuhan itu sendiri telah memberi kesempatan bagi orang kebanyakan di Tripoli untuk melihat isi tempat yang selama ini jadi misteri dan serba sangat tertutup.
Meski menjadi salah satu lokasi paling terkenal di Tripoli selama ini, tak satu pun rambu penunjuk jalan di kota itu menyebut Bab al-Aziziya. Warga pun enggan berjalan di dekat dindingnya yang sangat tebal karena takut dicurigai oleh tentara penjaga. Risikonya bisa dipenjara atau bahkan tembak di tempat.
Kini, jangan kan berjalan di dekat pintu gerbang ”istana” Khadafy itu, mau menjelajahi setiap sudut kompleks seluas 6 kilometer persegi tersebut pun bebas-bebas saja. Warga bahkan beramai-ramai menjarah isi semua bangunan di sana sesaat setelah kompleks itu jatuh ke tangan pemberontak.
Bangsa yang Di Rusak Pemimpinnya sendiri
Kita di Indonesia bisa membayangkan bagaimana “otoriternya” pemerintahan di bawah Soeharto dahulu. Nyaris tidak ada komunikasi yang bisa dilakukan kalau hal itu menyangkut system kekuasaan. Pilihannya hanya terbatas penjara atau di”hilangkan”. Demikian pulalah Khadafy melakoni kekuasaannya, jangankan ada yang berani berkata “beda”, memberikan masukan saja adalah sesuatu yang sia-sia. Karena sang pemimpin biasanya sudah meyakini bahwa sistemnya adalah model yang paling sempurna dan paling cocok bagi rakyatnya dan juga layak bagi Dunia. Pemimpin seperti itu juga sudah dengan sendirinya dikelilingi oleh para penjilat, oleh para “pembantu” yang memang hanya ingin memuja sang pemimpin sembari menikmati remah-remah yang ada di sekitar penguasa.
Namun proses takdir terus bergulir, kekuatan pembangkan terus tumbuh meski secara setitik-demi setitik tetapi ia terus membesar dan membesar. Kemudian terjadilah “permintaan bantuan” dari kekuatan asing, kekuatan yang memang mempunyai perhitungannya sendiri. Mereka akan senang membantu dan tentu semua bantuan itu tidak pernah gratis dan malah sangat mahal. Tetapi bagi siapapun oposisinya bantuan seperti itu pasti mereka ambil asalkan bisa menumbangkan sang Diktator. Soal “nanti” itu lain lagi.
Hal itu kini sudah jelas terlihat di mana-mana, termasuk sebentar lagi di Libya. Khadafy sendiri sempat menuduh Presiden Perancis Nicolas Sarkozy sebagai pihak yang turut bersemangat merusak Libya dengan tujuan ingin mencuri kekayaan minyak dan gas Libya, yang kini dikuasai raksasa perminyakan dari Rusia, China, dan Brasil. Sayangnya justeru Rusia, China dan Brasil sepertinya malah lebih banyak abstainnya daripada membela Khadafy. Kalau saja negara-negara penikmat “minyak” Khadafy ini mau menbantu dengan benar, bisa jadi Khadafy masih bisa menyelamatkan kekuasaannya. Tetapi memang seperti di duga, perusahaan minyak mereka ini juga tidak lepas dari “sapi perahan” Khadafy. Jadi mereka juga sesungguhnya wajar saja kalau abstain.
Bisa di duga kini, Eni (dulu Agip), perusahaan minyak Italia, mengingatkan perusahaan minyak asing untuk siap-siap dengan renegosiasi kontrak eksplorasi minyak. Perusahaan minyak Inggris, BP, juga menyatakan siap kembali berbisnis di Libya. Begitu juga Amerika dan negara-negara yang berada dalam payung NATO yang nyata-nyata telah memberikan dukungan yang sangat berarti bagi oposisi (NTC) dan NTC sendiri pasti sudah menyadari hal seperti itu sebagai sesuatu yang wajar. Kalau pimpinan oposisi itu cerdas, tentu mereka bisa membawa Libya ke jalan yang benar. Tapi kalau tidak, ya yang akan terjadi adalah seperti yang ada di Irak. Perang saudara tiada akhir. Tapi bagi mereka yang pernah merasakan pahitnya di masa kekuasaan Saddam Hussein, kondisi seperti itu masih jauh lebih baik. Yah suatu pilihan yang tidak menyenangkan. Tetapi setidaknya masih memberikan sedikit harapan.





