Menyeimbangkan Kekuatan Kawasan di Asia Tenggara
Kawasan asia melihat China dalam hal klaim ke wilayahan cukup spesifik dan khas, dan yang sering terlihat justeru banyaknya konflik China dengan Negara di sekitarnya justeru dalam hal memperebutkan wilayah; terlepas apakah klaim itu sah atau tidak tentu lain lagi masalahnya. Hal seperti itu terjadi dengan Tibet, dengan Taiwan, dan di laut China Selatan. China sebenarnya dalam banyak hal masih sangat menahan diri, dan tidak melakukan klaimnya dengan cara-cara kekerasan; tetapi bagi kawasan hal seperti itu tetap saja menjadi suatu kehawatiran.
Selama bertahun-tahun China menghindarkan masalah sengketa wilayah Laut China Selatan, yang diklaim enam negara di kawasan Asia Tenggara ( diantaranya Malaysia, Vietnam, Brunai Darussalam, Filipina), malah dengan Indonesia terjadi juga berbagai friksi, khususnya terkait dengan klaim China atas hak nelayan tradisionalnya di ZEE Indonesia di laut china selatan. Meski tidak terjadi benturan, tetapi masing-masing Negara selalu melakukan protes secara resmi.
Image china yang selalu punya masalah terkait ke wilayahan dengan Negara tetangganya, mau tidak mau telah memaksa Negara-negara asia tenggara yang tergabung dalam Asean ahirnya mau tidak mau terpaksa mendekati Amerika Serikat, secara akal sehat minimal dengan cara seperti itu, agar china bisa menyadari perlunya adanya keseimbangan yang sehat di kawasan. Tentu saja, Amerika Serikat dengan baik memanfaatkan “undangan” asean tersebut, terlebih lagi dengan munculnya china sebagai kekuatan yang baru di Dunia.
Kepentingan AS di Kawasan
Dikaitkan dengan kepentingan AS, seperti yang diungkapkan Pamungkas Ayudhaning Dewanto, Peneliti Hubungan Trans-Pasifik Departemen HI, FISIP UI (Kompas,26 juli 2010) terdapat tiga faktor utama AS mengalihkan konsentrasi politik luar negerinya ke Asia Timur. Pertama, potensi kevakuman kekuatan strategis AS di kawasan setelah keberadaan basis pertahanannya di Pulau Okinawa terus menghadapi tentangan dari pemerintah dan masyarakat Jepang. Parlemen Jepang bahkan mampu menjatuhkan pemerintahan Hatoyama yang setuju atas eksistensi basis pertahanan tersebut. Di sisi lain, potensi keresahan keamanan telah muncul dari eskalasi konflik di Semenanjung Korea pasca-tenggelamnya kapal Angkatan Laut Korea Selatan, Maret lalu.
Kedua, AS menaruh kekhawatiran akan meningkatnya tensi politik dan krisis HAM di Asia Tenggara. Asia Tenggara masih memiliki kultur otoriter yang kapan pun berpotensi muncul kembali. Kekerasan pemerintah terhadap elemen ”Kaus Merah” di Bangkok, berbagai penembakan menjelang pemilu di Filipina Mei, serta potensi pembelengguan pemilu di Myanmar oleh pemerintahan Junta merupakan konstelasi terkini yang memunculkan kekhawatiran AS sebagai ancaman nyata atas penyebaran pengaruhnya di Asia Tenggara.
Ketiga, secara ekonomi, menguatnya integrasi Asia Timur semakin memperkecil kemungkinan AS turut serta dalam kebijakan regional. Keadaan ini ditambah terus menguatnya potensi pertumbuhan dan persebaran ekonomi China. AS melihat stabilitas ekonomi dan keuangan yang lebih baik di Asia sebagai potensi pasar dan investasi. Di sisi lain, kelangsungan ekonomi Asia akan memberikan dampak langsung terhadap AS. Sekitar 23,4 persen utang yang diterbitkan dari surat berharga AS ditopang oleh Asia (China) atau sekitar 877,5 miliar dollar AS hingga Februari 2010.
Peran Indonesia
Bagi Indonesia, menguatnya kehadiran kekuatan China dan AS di Asia Tenggara, dapat dikolaborasikan dalam berbagai kepentingan kegiatan ekonomi, dan menjadikan kedua Negara itu sekaligus sebagai partner dagang yang potensial bagi pengembangan perekonomian nasional. Kalau Indonesia bisa mengakomodir kepentingan kedua Negara itu, dan menjadikannya sebagai partner dalam pengembangan kawasan, maka tidak mustahil, kawasan ini akan jadi kawasan dagang yang menjanjikan pertumbuhan bagi masing-masing Negara di kawasan. Kalau melihat daya “sabar” china dalam meredam berbagai konflik yang terukur dalam penganan kedaulatannya dengan Taiwan dan Tibet, maka dipercaya kawasan ini juga akan mendapatkan manfaatnya secara positip.




One Response to “Menyeimbangkan Kekuatan Kawasan di Asia Tenggara”
kawasan on August 3, 2010
keamanan di kawasan perlu di kolaborasikan dengan negara tetangga, sebab kalau negara tetangga mengundang kekuatan yang tidak frendly dengan negara tetangganya, bisa dipastikan akan banyak masalah yang akan muncul? menurut anda bagaimana? Berikan komentar anda, terimakasih