Melihat Moammar Khadafy, Mempertahankan Kekuasaannya

Trias Kuncahyono (Kompas//24/3/2011)menuliskan “Revolusi atau ”reformasi” atau apalah namanya yang terjadi di Timur Tengah saat ini—Arab secara gamblang memberikan gambaran kepada kita bahwa rezim otoritarian, otokratik tidak memiliki tempat lagi.Gelombang revolusi yang menjungkalkan para penguasa itu juga menjelaskan—dalam bahasa Samer Frangie, seorang profesor politik di American University of Beirut, dalam tulisannya yang diterbitkan oleh openDemocracy—tentang keterbatasan ”revolusi dari atas” dan menegaskan perlunya reformasi lebih dalam, lebih mendasar terhadap ideologi, kultur, dan masyarakat Arab.

koalisi

afp/fatrick baz

Revolusi dari atas cenderung melahirkan pemimpin yang dalam perkembangannya korup, otoriter, otokratik. Karena itu, dibutuhkan reformasi total. Zine al-Abidine Ben Ali, yang berkuasa lewat kudeta konstitusional tahun 1987, telah mengembangkan pemerintahan yang korup, tangan besi, otokratik, dan membiarkan orang- orang serta keluarganya menjarah kekayaan negara. Ia akhirnya disingkirkan revolusi kekuatan rakyat dukungan militer.Apa yang terjadi di Mesir, Sudan, Yaman  bukanlah ungkapan ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakannya,  akan tetapi, yang diinginkan kaum muda reformasi adalah masalah mendasar, yakni hak- hak politik, kebebasan, pemilu, penegakan hak-hak asasi manusia, dan keluar dari represi.

Pemimpin yang bersikukuh dengan sikapnya, tidak mau mendengarkan suara rakyat, yang mementingkan diri, dan menggenggam erat kekuasaan pada akhirnya harus menerima kenyataan: tersingkir. Kini panggung kehidupan itu ada di Libya dengan Moammar Khadafy-nya. Yang membedakan adalah cara Khadafy menghadapi tuntutan rakyatnya,  dengan tindak kekerasan, bahkan menggunakan tentara bayaran. Begitu banyak rakyatnya yang mati. Khadafy bukan Ben Ali, juga bukan Mubarak, yang memilih turun takhta untuk menghindari pertumpahan darah. Khadafy beda. Libya dengan sumber minyak dan gas, anti-Barat, negara secara ideologi fundamentalis, serta ekonominya independen berani dengan leluasa menjawab tuntutan rakyatnya akan kebebasan dengan keras dan tegas.Namun, sampai kapan semua itu akan bertahan? Mengutip puisi Tunisia, ”Apabila suatu hari rakyat menginginkan kehidupan, takdir tentu akan menjawabnya, malam akan berganti terang, dan rantai-rantai akan putus””.

Upaya Optimal

Selama sebulan terahir ini Khadafy sebenarnya ingin dialog dengan Barat setidaknya hal itu terlihat dengan gencarnya ia  mengirimkan utusan ke Barat untuk mendekati elite dunia. Khadafy sudah menegaskan bahwa Libya adalah sekutu terbaik Barat dalam perang melawan terorisme. Khadafy juga mengirimkan surat kepada sejumlah anggota Dewan Keamanan PBB agar penjatuhan sanksi tidak diberlakukan. Namun, semua itu tidak mempan menahan niat Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi.Khadafy juga sudah menekankan bahwa musuh yang sedang dia perangi adalah antek-antek Al Qaeda, bukan rakyat Libya.

Hanya saja Khadafy juga telah memerintahkan pasukan menyerang kubu oposisi yang sempat menguasai Libya timur. Hal ini membuat sebagian rakyat Libya turut mendukung serangan Barat dan semua itu memicu semangat Dunia untuk “mengenyahkan Khadafy”. Siapapun percaya dalam kemelut seperti ini, barulah terasa manisnya kemanusiaan, bahwa kalau para pemimpin itu mau membangun negaranya dengan bijak, adil, bersih dan amanah. Pastilah dunia juga akan menghargainya, melebihi yang semestinya. Kini lihatlah Khadafy, tokoh yang menghamburkan uang negaranya demi kepemimpinannya yang gila “kuasa”.

Dalam kondisi seperti itu, Barat sama sekali tidak memberikan alternative lain pada Khadafy, sama seperti apa yang dikatakan dikatakan professor Fawaz A Gerges, (pakar soal timur tengah dan hubungan internasional) dari London School of Economics and Political Science, kepada CNN (21/3/)di London.“Pemimpin Libya, Moammar Khadafy, benar-benar tidak diberikan kesempatan mengajukan alternatif penyelesaian terhadap krisis di negaranya. Hal itu membuat Khadafy kalap”.

Pasukan Koalisi punya rencana cukup sederhana, habisi kekuatan alat perang Khadafy dan biarkan rakyatnya yang akan menyelesaiaknnya. Menurut Kompas(23/3/) Pasukan koalisi Perancis, Inggris, dan AS berkali-kali menegaskan, tujuan serangan bukan untuk membunuh Khadafy meski serangan telah meluluhlantakkan pusat pertahanannya di Bab al-Aziziya. Koalisi ingin melumpuhkan armada Khadafy yang telah menewaskan lebih dari 2.000 warga sipil saat memerangi kelompok oposisi.Jenderal Carter Ham, komandan pasukan AS dalam Operasi Fajar Odyssey, mengatakan, serangan bom dan senjata berat ke Libya dikurangi mulai Selasa. Washington tidak ingin terjebak lagi ke medan perang baru yang panjang, seperti yang terjadi di Irak dan Afganistan.

”Saya kira, kecuali jika terjadi sesuatu yang di luar dugaan dan tidak lazim, kemungkinan kami akan menurunkan frekuensi serangan ke Libya,” kata Ham.

Taktik baru Khadafy

Saat koalisi mengurangi serangan laut dan udara terhadap Libya, pasukan Khadafy justru kembali menyerang pasukan oposisi yang menguasai beberapa kota. Dua di antaranya, Misrata dan Zintan, menjadi sasaran amuk pasukan loyalis Khadafy, Senin(22/3) malam. Warga di dua wilayah yang dikuasai oposisi di bagian barat Libya itu mengaku diserang pasukan Khadafy. Diperkirakan pasukan loyalis pemerintahan Khadafy yang telah berkuasa selama 41 tahun dan 6 bulan itu akan terus memaksakan masuk ke wilayah tersebut guna menghindari serangan udara oposisi Barat.

Warga Misrata mengaku berusaha keras untuk menyetop pasukan Khadafy dengan melakukan perlawanan keras di gerbang masuk kota. ”Ketika memasuki kota, pasukan Khadafy menembaki warga dengan senjata artileri,” kata Saadoun, warga setempat, seperti dirilis Reuters.Saadoun mengatakan, akibat serangan pasukan Khadafy, sembilan warga sipil tewas. Namun, belum ada konfirmasi resmi mengenai jumlah korban ini. Dari Zintan dilaporkan, pasukan Khadafy menyerang kota yang dikuasai oposisi itu, Selasa. Pertempuran pecah di Zintan, dekat perbatasan Tunisia. Dua saksi mata menyebutkan, warga mengungsi ke goa-goa di gunung. Warga panik. Beberapa rumah dan menara masjid hancur.

”Pasukan baru dikirim hari ini untuk mengepung kota. Sekarang sekitar 40 tank ada di kaki pegunungan dekat Zintan,” tutur Abdulrahmane Daw, salah seorang saksi mata, kepada Reuters melalui telepon. Sekali lagi, laporan itu tidak dapat diverifikasi secara independen. Menteri Luar Negeri Perancis Alain Juppe mengatakan, pemerintahnya berharap rakyat Libya sendiri akan menggulingkan pemimpin otoritarian Khadafy. ”Kapan rezim runtuh? Ini sangat mungkin terjadi mengingat kekuatan rezim sudah semakin lemah. Semoga Khadafy akan dirobohkan dari dalam,” katanya.

AS juga mengatakan, tekanan selama tiga hari terhadap Khadafy diharapkan sudah merobohkan kekuatannya. AS berharap Khadafy akan mundur. ”Kami berusaha meyakinkan Khadafy dan rezimnya, juga rekan-rekannya, bahwa mereka harus mundur dari kekuasaan. Itu tujuan kami,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Mark Toner. (AP/AFP/REUTERS/CAL)

Dimana Militer Libya?

Untuk melihatnya secara sederhana berikut Tulisan Musthafa Abd Rahman (Kompas/24/3) baik dari sisi analisisnya.Militer telah memainkan peran menentukan dalam mengantarkan kemenangan revolusi di Tunisia dan Mesir. Di Tunisia, militer menolak menembaki pengunjuk rasa antirezim Zine al-Abidine Ben Ali hingga akhirnya memaksa Ben Ali kabur. Di Mesir, militer memilih mengambil posisi netral, tetapi secara politik lebih cenderung memihak pengunjuk rasa antirezim Hosni Mubarak. Mubarak pun akhirnya mundur.

Meletupnya gerakan massa masif antirezim Moammar Khadafy di Libya saat ini memunculkan pertanyaan pula tentang peran militer Libya atas masa depan revolusi di negara Afrika Utara yang kaya minyak itu.

Militer Libya tidak tergolong besar, hanya berjumlah sekitar 76.000 personel. Militer Libya yang terdiri dari angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara dikenal memiliki persenjataan cukup baik. AD Libya memiliki 2.000 tank dan ratusan artileri. AU Libya dengan 23.000 personel memiliki 273 pesawat dan 41 helikopter tempur, yang terdiri dari pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi 22, Sukhoi 24, dan MIG-21. Anggota AL Libya hanya berjumlah 8.000 personel.

Berbeda dari militer Tunisia dan Mesir, institusi militer Libya tidak dikenal independen, utuh, dan kuat secara organisasi. Militer Tunisia dan Mesir mampu menjaga jarak dengan rezim. Namun, institusi militer Libya telah dikoyak-koyak oleh Khadafy, baik secara organisasi maupun ideologi. Persisnya, sejak militer Libya dengan segala fasilitas persenjataannya tidak mampu mengalahkan militer Chad yang miskin dalam perang perbatasan kedua negara tahun 1980-an.

Khadafy, yang marah lantaran dipermalukan Chad saat itu, mengobrak-abrik institusi militer dan mengubah namanya dengan disebut ”rakyat bersenjata”.

Khadafy memperluas pula keanggotaan rakyat bersenjata itu dengan tidak hanya terbatas pada tentara reguler, tetapi juga meliputi rakyat wajib militer. Jumlah rakyat bersenjata itu disinyalir mencapai 1,5 juta personel. Isinya pun gado-gado. Ada tentara reguler, ada komite rakyat bersenjata, ada satuan pertahanan rakyat, dan ada milisi-milisi khusus bersenjata di bawah binaan putra-putra Khadafy. Rakyat bersenjata itu berada di bawah komando panglima besar Khadafy.

Kelemahan rakyat bersenjata itu adalah sistem organisasinya sangat longgar karena banyak komandan yang sangat otonom. Selain itu, anggota rakyat bersenjata tersebut direkrut dari kabilah-kabilah (suku-suku) yang tersebar di seluruh Libya, di mana antara satu dan lain kabilah berbeda tingkat loyalitasnya kepada rezim Khadafy.

Maka, jika struktur dan garis komando militer di negara lain sangat jelas, struktur dan garis komando rakyat bersenjata di Libya acak-acakan. Khadafy disebut panglima rakyat bersenjata hanya sebatas jabatan politik, bukan profesional.

Akibat kerentanan struktur dan garis komando rakyat bersenjata itu, tidak heran segera muncul banyak berita tentang pembelotan anggota militer Libya. Misalnya, dua pilot AU Libya dengan dua pesawat tempurnya minta suaka politik ke Malta karena menolak perintah menggempur pengunjuk rasa di kota Benghazi. Banyak berita pula bahwa satuan militer dan aparat keamanan meninggalkan kesatuannya dan bergabung dengan pengunjuk rasa di kota-kota Libya timur, seperti Benghazi, Bayda, dan Tobruk. Bahkan, sumber militer Mesir mengungkapkan, pasukan penjaga perbatasan Libya telah menarik diri dari perbatasan dengan Mesir.

Dalam waktu yang sama, masih ada pula anggota militer yang masih loyal kepada Khadafy, seperti anggota AU Libya yang menerbangkan pesawat tempurnya untuk menggempur berbagai sasaran pengunjuk rasa di kota Tripoli dan Benghazi. Ada berita pula Khadafy menggunakan jasa tentara bayaran dari Afrika dan Eropa Timur untuk menghabisi pengunjuk rasa.

Karena itu, sangat sulit mendefinisikan rakyat bersenjata Libya sebagai satu kesatuan organisasi dalam menghadapi gerakan rakyat Libya antirezim Khadafy saat ini.

Sebaliknya, rakyat bersenjata di Libya sangat rentan pecah dan terlibat perang saudara. Oleh sebab itu, militer Libya yang disebut rakyat bersenjata itu secara institusi sangat sulit diharapkan bisa tampil seperti militer Tunisia dan Mesir.

Dalam konteks itu, bisa dipahami jika Saif al-Islam Khadafy (putra Moammar Khadafy) dalam pidatonya yang disiarkan televisi, Minggu malam lalu, mengancam, apabila rakyat Libya tidak menerima ajakan dialog, negeri itu bisa terjerumus perang saudara.

Sisa harapan yang ada adalah apabila ada inisiatif individu dari seorang atau beberapa tokoh militer untuk membangun satu kekuatan penekan terhadap Khadafy sehingga Libya terhindar dari aksi pertumpahan darah yang lebih dahsyat lagi.

Anjing Gila Di Timur tengah

Terhitung sejak 1 September 1969, sudah 41 tahun lima bulan Kolonel Moammar Khadafy memimpin Libya. Kekuasaannya dimulai dengan kudeta militer terhadap Raja Idris. Sepanjang kekuasaannya, sudah ribuan orang tewas dan hilang. Ia lebih memilih membunuh daripada menyerah.Dalam seminggu terakhir, pria bernama lengkap Moammar Abu Minyar al-Khadafy ini diduga telah membunuh lebih dari 1.000 orang yang dilakukan para pendukungnya.Ia tidak saja memerintahkan tentara untuk menembak dengan senjata biasa, tetapi juga menggunakan rudal antipesawat dan senjata otomatis. Tidak hanya dilakukan di darat, tetapi juga menembak dari udara menggunakan helikopter.

Kebrutalan Khadafy tidak hanya sampai di situ. Pria kelahiran 7 Juni 1942 ini juga memerintahkan para perwira militer untuk mengeksekusi mati tentara yang menolak menembak massa antipemerintah. Dalam laporan awal pekan lalu, ketika jumlah korban tewas baru 300 orang, sudah 130 tentara dieksekusi mati. Kejam!

Tidak heran jika mantan Menteri Negara Libya Shaheem Mohamed Ali Saeed menyebut Khadafy manusia ”jahat” dan ”kejam” atau ”anjing gila dari Timur Tengah”. Para pemimpin dunia kini juga mengutuknya. Khadafy meraih kekuasaannya melalui kudeta terhadap Raja Idris, 1 September 1969. Saat itu ia pemuda berusia 27 tahun dan berpangkat kolonel—pangkat yang kini tetap dipertahankan. Ketika remaja, ia dipengaruhi nasionalis Arab, Gamal Abdel Nasser dari Mesir. Ia pernah keluar dari sekolah hanya untuk menggalang aksi protes mahasiswa pro-Nasser.

Terinspirasi Little Red Book karya pemimpin revolusi China, Mao Zedong, Khadafy menulis buku Buku Hijau dalam tiga jilid dengan subjudul ”Solusi untuk Masalah Demokrasi”, menjelaskan filosofi ”Sosialisme Islam”. Buku itu juga diperbanyak di Maladewa oleh mantan Presiden Maladewa Maumoon Abdul Gayoom.

Dalam bukunya, Khadafy mencatat bahwa dalam kondisi ideal, pemerintah seharusnya membuka jalan bagi pemerintahan oleh rakyat. Namun, selama 41 tahun kekuasaan Khadafy, rakyat terkekang dan bahkan suara yang menuntut perubahan menghadapi kematian. Misalnya, pada tahun 1970-an ia mengeksekusi 22 perwira, membunuh, menculik, dan menghilangkan rakyatnya sendiri. Hal yang sama dilakukan pada tahun 1980-an. Pada tahun 1996, 1.000 orang di penjara Abu Salim ditembak mati.

Khadafy tidak pernah menyebut dirinya presiden atau memimpin partai politik. Ia tetap menyebut dirinya pemimpin revolusi. Para musuhnya disebut ”kecoak” dan ”tikus” yang harus diberantas sampai ke sarang-sarangnya. Khadafy memiliki dua istri. Perkawinan dengan Fatiha, istri pertama, melahirkan satu anak. Perkawinan dengan Safia Farkash melahirkan delapan anak dan Saif al-Islam anak nomor pertama.( Kompas / 28 / 2 / AFP / AP/REUTERS/CAL)

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
  • RSS Harmen Batubara.com

    • Income Infuser Review, Make Money thru Membership Site May 19, 2012
      The guys behind Income Infuser are Dave Nayavich and Darren Salkeld, they invested more than $25,000 into this platform and more than a year putting this thing together to make it work and to offer to the public. The software is custom configured “ Membership Site Out Of The Box Concept” so members can easily upload and be selling with their own sales letter […]
      batubara
    • Membersnap Review, Build Your Niche Membership Websites May 12, 2012
      We all know WITH MEMBERSHIP SITES it will give you incredible results and are a great source of residual monthly cash flow, and with Member Snap all the dream really come thru. Now the choice is yours. Ask yourself what kind of membership website you want to produce. What niche really that market need? Are you just copy your competitor and deliver more? What […]
      batubara
    • Get Cash For Surveys Review May 5, 2012
      Come inside, and you will find there are 288 Surveys available for you! Just join their GetCashForSurvey site, and you will see some of surveys waiting for you! If you need an additional income or extra cash, this is the opportunity! Especially if you love creative work and you are artistic enough, you will have the chance to express your opinion on several […]
      batubara