Laut China Selatan, Mewujutkan Kerjasama Kawasan
| Konflik yang paling mungkin di masa datang di kawasan, adalah konflik yang bersumber dari perebutan Sumber Daya Alam, wilayah perbatasan akan menjadi persolan yang sangat sensitive. Hal seperti itu terlihat dari apa yang dilakukan oleh ;
Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan para pemimpin ASEAN akan menyerukan solusi damai soal sengketa di Laut China Selatan serta mengimbau semua pihak tidak melakukan penggunaan kekuatan. Itulah isi inti draf komunike pertemuan AS-ASEAN seperti dikutip kantor berita AP, Minggu (19/9). Pada Juli lalu Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dalam forum keamanan regional di Vietnam menegaskan solusi damai terhadap sengketa atas gugusan Kepulauan Spratly dan Paracel merupakan kepentingan nasional AS. |
| China sempat memberi reaksi marah dengan menyatakan AS telah melakukan intervensi soal isu regional Asia. Obama dijadwalkan akan bertemu dengan 10 pemimpin ASEAN hari Jumat minggu ketiga September | ![]() |
| untuk mendiskusikan pengukuhan aliansi serta isu kerja sama ekonomi dan keamanan, termasuk isu konflik di Laut China Selatan. ”Obama dan para pemimpin ASEAN akan mengeluarkan pernyataan bersama untuk penegasan kembali tentang pentingnya kebebasan pelayaran, stabilitas regional, menghormati hukum internasional dan keleluasaan perdagangan di Laut China Selatan,” demikian bunyi komunike tersebut. Komunike itu juga menolak keras penggunaan kekuatan oleh semua pihak untuk memaksakan klaimnya di Laut China Selatan. (Kompas 20/9/2010).
Upaya untuk memperkecil keterlibatan barat (baca; Amerika) di kawasan secara perlahan terus di upayakan oleh kekuatan baru di kawasan; hal seperti itulah yang terlihat dilakukan oleh China dan India di Sri Langka; China dan India saat ini terus berusaha memperkuat pengaruh di bidang ekonomi, investasi, dan keamanan di Sri Lanka guna menggeser kekuatan Barat di negara itu. Lebih dari setahun setelah berakhirnya perang saudara, upaya dua kekuatan baru Asia itu tidak pernah surut, bahkan menjadi donor utama bagi Sri Lanka. Majalah Time terbitan Minggu (3/10) memberitakan, peran China dan India kian berkibar di Sri Lanka. Bahasan tentang pengaruh dua raksasa Asia di Sri Lanka dituangkan dalam judul ”How China and India Displaced the West in Sri Lanka”. Kekuatan China dan India hadir atas ”undangan” Sri Lanka. Negara ini ingin menangkis Dewan HAM PBB, yang menuduh operasi penumpasan Macan Tamil sebagai pelanggaran HAM. Dengan mengandalkan China dan India, Sri Lanka akan terhindar dari potensi sanksi yang biasanya dijatuhkan Barat. Operasi militer menumpas sisa-sisa pemberontakan separatis Macan Tamil terjadi pada Mei 2009.( Kompas/6/10/2010). Bahkan dalam tulisan yang sama disebutkan; Dukungan China dan India memang sangat penting selama tiga tahun terakhir, terutama ketika Presiden Sri Lanka Mahinda Radjapaksa menghadapi kritikan tajam dari UE soal operasi penumpasan separatis Macan Tamil. China salah satu pemasok utama senjata ke Sri Lanka. ”Tanpa bantuan mereka, kami tak bisa mengakhiri konflik,” kata Jayatilleka. China, bersama Rusia, juga melakukan campur tangan menyangkut kasus Sri Lanka di Dewan Keamanan PBB. Menurut diplomat Sri Lanka, Nanda Godage, kedua negara itu juga memperingatkan Barat terhadap setiap tindakan unilateral mereka di Sri Lanka. Selain di bidang politik dan keamanan, China dan India juga memperkuat ekonomi dan investasi di subsektor infrastruktur di Sri Lanka.
China juga telah mengucurkan 500 juta dollar AS untuk membangun infrastruktur, pelabuhan, jaringan listrik, dan jalan raya. India memberikan pinjaman 800 juta dollar AS berbunga rendah untuk membantu Sri Lanka. Perusahaan India bertebaran di Sri Lanka, termasuk di sektor perhotelan. Bantuan terus mengalir walau Barat berniat menyelidiki penumpasan Macan Tamil. AS juga berusaha melawan pengaruh China. (TIME/CAL) Sikap menahan diri Namun, semua pemimpin ASEAN akan menegaskan kembali dukungannya terhadap deklarasi China-ASEAN tahun 2002 tentang sikap menahan diri atas sengketa Laut China Selatan. Dalam deklarasi tersebut ditegaskan bahwa para pengklaim hendaknya tidak melakukan langkah yang bisa memicu kekerasan dan meletupkan ketegangan baru. Mereka akan mendorong para pengklaim untuk ikut menciptakan kondisi yang kondusif. Seperti dimaklumi, China selama ini mengklaim semua wilayah Laut China Selatan. Vietnam, Malaysia, Taiwan, Brunei, dan Filipina juga mengklaim sejumlah wilayah di Laut China Selatan. Selain dikenal kaya ikan, Laut China Selatan dipercaya memiliki cadangan minyak dan gas yang besar. Saling klaim atas pulau-pulau di jalur laut yang sangat sibuk itu membuat jalur itu krusial bagi suplai minyak dan sumber alam lainnya untuk kepentingan kecepatan ekspansi ekonomi China. Pada sebuah pertemuan pendahuluan di Washington untuk persiapan pertemuan puncak itu, Deputi Menlu AS Kurt Campbell dan Direktur Senior Lembaga Keamanan Nasional untuk Asia Jeffrey Bader menyampaikan kepada para duta besar ASEAN untuk AS bahwa pernyataan Menlu Hillary Clinton di Hanoi pada bulan Juli lalu bertujuan untuk sebuah kerja sama yang saling menguntungkan. (AP/MTH)
|






