Kunjungan Obama ke Kawasan Asia, Simbol Sekutu Baru
Kunjungan Obama dalam lawatannya ke Asia, dengan jelas memperlihatkan bagaimana AS melihat kenyataan baru secara lebih konkrit dan lebih realistis di kawasan ini. Minimal hal tersebut memperlihatkan dengan jelas bagaimana AS mencoba meletakkan kepentingan nasionalnya dalam perubahan dan pendekatan baru. Khususnya terhadap “sekutu-sekutunya”, yang selama ini justeru tidak pernah luput dari masalah; katakanlah misalnya terhadap Pakistan dan Indonesia; dua negara yang sejatinya ingin di jadikan kawan andalan, tetapi nyatanya tidak bisa di pertahankan. Kedua Negara ini seolah tidak mampu mengelola negaranya dengan cara yang lebih baik. Kedua Negara ini “sibuk” dengan para teroris dan permasalahan korupsi yang tidak ada ujungnya.
Kalau kita memakai kacamata R William Liddle dalam melihat seorang Obama, makin meyakinkan kita bahwa politik AS dikawasan ini semakin realistik, khususnya dalam memperlakukan Negara “sahabat” yang selama ini selalu mendapat perlakuan istimewa dari AS. Menurut Liddle ada empat ciri khas kepemimpinan Obama; Pertama, clear and consistent policy goals, tujuan-tujuan kebijakan pokok yang dirumuskan dengan jelas dan dipertahankan sejak awal. Kedua adalah tactical intelligence, kepintaran taktis. Ketiga, Obama membuktikan bahwa dia bersedia learn from history, belajar dari pengalaman pendahulu-pendahulunya. Dan ciri khas keempat gaya kepemimpinan Obama adalah political will, kemauan politik. Agaknya warna kepemimpinan itulah yang secara jelas, melihat sekutu barunya di kawasan Asia.
Sekutu Menahan Dominasi China
Bahwa China yang kuat dan bersahabat di kawasan, dalam banyak hal tetap akan menjadi penyebab pola baru dalam pengelola kawasan. Tengoklah misalnya dalam pembangunan Sri Langka kembali, China dan India secara mencolok memberikan respon tidak saja cepat tetapi juga memperlihatkan maknanya sekaligus. China dan India saat ini terus berusaha memperkuat pengaruh di bidang ekonomi, investasi, dan keamanan, guna menggeser kekuatan Barat di negara itu. Lebih dari setahun setelah berakhirnya perang saudara, upaya dua kekuatan baru Asia itu tidak pernah surut, bahkan menjadi donor utama bagi Sri Lanka.
Majalah Time terbitan Minggu (3/10) memberitakan, peran China dan India kian berkibar di Sri Lanka. Bahasan tentang pengaruh dua raksasa Asia di Sri Lanka dituangkan dalam judul ”How China and India Displaced the West in Sri Lanka”. Kekuatan China dan India hadir atas ”undangan” Sri Lanka. Negara ini ingin menangkis pandangan Barat khususnya Dewan HAM PBB, yang menuduh operasi penumpasan Macan Tamil di negaranya sebagai pelanggaran HAM. Dengan mengandalkan China dan India, Sri Lanka akan terhindar dari potensi sanksi yang biasanya dijatuhkan Barat. Khususnya terhadap operasi militer menumpas sisa-sisa pemberontakan separatis Macan Tamil terjadi pada Mei 2009.
Obama merangkul India dan seolah “mencanpakkan” Pakistan, sekutu lamanya di kawasan. Tidak pelak lagi, pemerintah Pakistan menyatakan sangat kecewa dan tak bisa memahami keputusan Amerika Serikat mendukung pencalonan India menjadi anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pernyataan tersebut disampaikan seusai sidang kabinet pemerintah federal Pakistan di Islamabad, Rabu (10/11). ”(Pemerintah Pakistan) mengungkapkan keprihatinan serius dan kekecewaan mendalam atas keputusan AS mendukung India mendapat kursi keanggotaan tetap di DK PBB,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Dukungan AS tersebut disampaikan Presiden Barack Obama saat berpidato di hadapan parlemen India di New Delhi. Obama mengatakan mendukung DK PBB yang direformasi dan memasukkan India sebagai salah satu anggota tetap. Para pengamat menilai, kunjungan Obama ke India dan dukungannya untuk menjadi anggota tetap DK PBB harus ditanggapi serius oleh Pakistan. ”Pakistan harus lebih realistis dan memahami peningkatan peran India di kancah internasional,” Pola seperti inilah yang terlihat oleh para pemerhati di kawasan.
Demikian juga dengan Indonesia, Negara yang masih rentan dengan semua masalah dan khususnya korupsi, sangat jelas terlihat Negara ini juga “tidak sehat”, ibarat partner, memang ga bisa diandalkan. Hal ini terlihat juga dengan kepergian Obama dari Jakarta terjadi lebih cepat dua jam dari waktu yang ditentukan semula Rabu. Segera setelah berpidato sekitar setengah jam di Balairung Universitas Indonesia di Depok, Obama langsung menuju Bandara Halim Perdanakusuma dan langsung bertolak untuk ikut pertemuan G-20 di Seoul dengan pesawat Air Force One.
Kepergian Obama yang lebih awal dan bahkan membatalkan kunjungan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dinilai tidak menjadi masalah bagi Pemerintah Indonesia. Itu disebabkan esensi dan makna kunjungan Presiden AS sudah dicapai dan diperoleh oleh pemerintah kedua negara. Hal itu diungkapkan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Politik Luar Negeri Teuku Faizasyah kepada Kompas, Rabu petang.
”Dari sisi pemerintah tidak ada masalah karena substansi dari kunjungan itu sudah sama-sama dicapai dan diperoleh oleh Pemerintah Indonesia dan AS, meskipun kunjungan lebih singkat,” ungkap Faizasyah. Menurut Faizasyah, esensi dan makna kunjungan Presiden Obama adalah memperkuat kemitraan strategis kedua negara. ”Banyak yang sudah dicapai kedua negara untuk peningkatan kerja sama yang lebih baik lagi di masa datang dengan prinsip kesetaraan.” Sungguh, kehidupan itu adalah sesuatu yang nyata; untuk Negara sebesar AS, mereka memang ingin Indonesia bisa bertumbuh dengan baik, jadi Negara demokrasi yang mampu mengawasi kawasan; tetapi sama dengan Pakistan, Negara ini juga polanya sama; selalu minta bantuan, dan juga tidak mampu mengurusi negaranya dengan baik; bagi kawasan ia masih jadi bagian dari masalah. ( Sumber Kompas,reuter,antara,time dan Media Indonesia).





