Konflik Perbatasan di Kawasan
oleh harmen batubara
Hari hari belakangan ini kita disuguhi berbagai aroma konflik yang bermula dari sengketa garis batas. Dimulai dengan adanya kontak senjata antara militer Thailand dan Kamboja di sekitar Candi Vreah. Kedua negara hingga kini belum bisa menemukan kesepakatan yang bisa membuat mereka menerima keadaan. Yang ada saat ini adalah jeda, sambil menunggu perkembangan politik di negaranya masing-masing. Indonesia sebagai ketua Asean 2011, juga tidak mempunyai banyak opsi, kecuali untuk mengajak agar kedua negara lebih memilih cara-cara damai daripada menggunakan kekerasan dengan senjata. Asean hanya bisa memberikan “fasilitasi” yang tidak memihak dan berharap kedua negara bisa menemukan cara penyelesaiannya sendiri.
Kemudian kita juga mendengarkan berbagai protes keras dari Filipina dan Vietnam terkait apa yang dilakukan China di wilayah yang disengketakan di kepulauan paracel dan Spratly laut china selatan. Filipina mengeluarkan pernyataan resmi yang menuduh China telah merusak kedamaian dan stabilitas di Asia dengan mengirimkan kapal-kapal perang. Ini bertujuan mengintimidasi pihak-pihak yang bersengketa di kawasan Laut China Selatan. Pernyataan tersebut dikeluarkan Departemen Luar Negeri Filipina, Sabtu (4/6), dua hari setelah Presiden Filipina Benigno Aquino mengeluarkan daftar pelanggaran yang dilakukan kapal- kapal perang China terhadap para pelaut Filipina ( kompas /5/6/2011).
Begitu pula dengan Vietnam, ratusan warga di dua kota utama Vietnam, yakni Hanoi dan Ho Chi Minh, menggelar unjuk rasa bertajuk ganyang China, Minggu (5/6). Mereka seperti hendak menyambut pernyataan Filipina Benigno Aquino III sebelumnya, yang menuding China telah merusak stabilitas di Asia melalui intimidasi militer di Laut China Selatan.Lebih dari 300 orang sambil meneriakkan ”ganyang China” berpawai menuju Kedutaan China di Hanoi, Vietnam, Minggu (5/6). Massa memprotes pelanggaran kedaulatan wilayah Vietnam oleh China di Laut China Selatan, yang dipersengketakan.
Aksi protes seperti ini jarang terjadi di Vietnam. Media di Vietnam juga melaporkan, sekitar 1.000 orang melakukan aksi serupa di konsulat China di Ho Chi Minh, kota besar lainnya yang terletak di Vietnam selatan.Para pendemo, sebagian besar mahasiswa dan kaum muda, bergerak melalui pusat kota Hanoi dengan meneriakkan yel-yel anti-China. Sebagian besar pengunjuk rasa itu mengenakan kaus berwarna bendera Vietnam, merah kuning. Mereka menyanyikan lagu-lagu patriotik pertanda kemarahan atas ”pelanggaran kedaulatan wilayah negara mereka” di Laut China Selatan.
Kenyataan di Lapangan
Dari berbagai media menuliskan ini dari persfektive Filipina, ”Spekulasi yang logis dari kejadian ini adalah terjadi peningkatan kehadiran China dengan kualitas yang lebih meningkat. Ini mengindikasikan bahwa yang terjadi bukan lagi sekadar perjalanan sebuah kapal untuk kemudian berlalu,” ini seuai pandangan yang dibuat oleh pejabat Filipina.Kejadian lain adalah pada Maret lalu. Saat itu kapal Angkatan Laut China membayang-bayangi kapal Filipina yang melakukan eksplorasi perminyakan. Sejak itu Filipina telah melaporkan kasus itu ke PBB, dengan alasan China telah memasuki Spratly dan sekitarnya secara tak sah.
Manila mengumumkan akan memberi perlindungan lebih kepada kapal eksplorasi minyak di kawasan itu dan akan membuka kesempatan bagi bisnis eksplorasi minyak di sana. Pekan lalu Menteri Pertahanan China Liang Guanglie bertemu dengan mitranya dari Filipina, Menhan Voltaire Gazmin. Keduanya sepakat agar masing-masing negara mencegah tindakan unilateral yang bisa memicu ketegangan di kawasan. Filipina, juga memprotes China karena dinilai merusak kedamaian dan stabilitas Asia dengan mengirim kapal-kapal perang ke Laut China Selatan untuk mengintimidasi.
Gugusan Kepulauan Spratly dan Paracel memiliki cadangan minyak dan gas serta kaya ikan. Bagi Vietnam misalnya, sengketa wilayah itu sangat peka dalam menimbulkan kemarahan. Vietnam sebagai negara yang pernah dijajah China selama seabad sudah lebih dari cukup, ditambah lagi China pernah menyerang dan mengambil alih pulau Paracel pada tahun 1974. Pada 1988 China dan Vietnam terlibat perang singkat dekat Spratly. Lebih dari 70 pelaut Vietnam tewas saat itu.
Kepulauan Spratly dengan lebih dari 100 pulau kecil, atol, dan karang diklaim seluruhnya atau sebagian oleh China, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Taiwan. Paracel, yang direbut China dari Vietnam selatan pada tahun 1974, juga diklaim oleh Taiwan.
Kedutaan Besar China di Manila membantah semua itu. Namun, Kedubes China mengakui kehadiran kapal riset maritim China di kawasan sengketa. Kedubes China mengatakan, keberadaan kapal tersebut sekadar melakukan tugas rutin. Menteri Pertahanan China Liang Guanglie, Minggu (5/6/2011) di Singapura, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kemajuan militer China bukan untuk mengancam.”Kami tak ingin mengancam negara mana pun dengan modernisasi militer. Saya mengerti beberapa pihak berpikir militer China adalah ancaman,” katanya menambahkan.
Namun, Filipina mengatakan, China sudah membangun secara fisik di kawasan sengketa. Menlu Filipina Alberto del Rosario mengatakan, setiap pembangunan fisik oleh China merupakan pelanggaran terhadap perjanjian yang ditandatangani pada 2002. Perjanjian itu ditandatangani oleh China dan ASEAN. Isinya meminta semua pihak menahan diri dan tidak menduduki area baru di kawasan yang dalam sengketa. Dubes China untuk Filipina Bai Tian telah dipanggil pada Selasa terkait isu itu.
Kekuatan di Kawasan
Mmemang perlu juga kita dengar bagaimana komentar Menhan AS terkait ketegangan ini. Menteri Pertahanan AS Robert Gates memperingatkan, penumpukan masalah teritorial di kawasan Laut China Selatan bisa berujung pada konflik bersenjata. ”Saya khawatir, tanpa rambu- rambu yang jelas, tanpa kesepakatan untuk menyelesaikan masalah-masalah ini, akan terjadi bentrokan. Dan itu akan merugikan semua pihak,” tutur Gates dalam konferensi keamanan regional di Singapura, Sabtu (3/6/2011)
China dan ASEAN sudah menandatangani deklarasi sikap (Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea) tahun 2002, yang pada intinya kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa teritorial di kawasan ini secara damai. Namun faktanya, China justru bertindak makin agresif beberapa tahun belakangan. Tahun lalu, beberapa pejabat China menyebut Laut China Selatan termasuk dalam ”kepentingan inti” China, yang artinya negara itu siap berperang untuk membela klaimnya.
Leszek Buszynski, pengamat hubungan internasional kawasan Asia Pasifik dari International University of Japan, mengatakan, salah satu faktor penyebab berlarut-larutnya penyelesaian sengketa Laut China Selatan adalah perpecahan dan ketidakkompakan ASEAN sendiri.
”ASEAN tak punya banyak pilihan dalam situasi ini selama mereka tetap terpecah dan tidak kunjung membangun konsensus tentang bagaimana merespons masalah ini,” tutur Buszynski dalam diskusi ”Prospek Kerja Sama dan Konvergensi dari Berbagai Masalah dan Dinamika di Laut China Selatan” di Jakarta (31/5/2011). Buszynski berpendapat, pendekatan ASEAN melalui cara-cara diplomatik akan tidak efektif di hadapan China, yang makin condong memperluat dan memanfaatkan penggunaan strategi kekuatan angkatan lautnya. (AFP/Reuters/DHF/MI/Kompas)






