Konflik Kawasan Korea, Mengelola Kepentingan Bersama
Oleh Harmen Batubara
Ada dua konflik kawasan yang tengah dan akan muncul di kawasan Asia. Pertama persoalan konflik kedua Korea dan kedua konflik perbatasan di kepulauan Spratly, laut China Selatan. Terkait konflik kedua Korea. Disamping konflik sejarah, ada dua hal yang melatarbelakangi konflik dua Korea, baik dari sudut pandang Korsel maupun Korut. Yang pertama adalah tuduhan dari Korsel bahwa Korut dengan sengaja melakukan usaha pengayaan uranium untuk menciptakan dan mengembangkan senjata berbasis nuklir. Beberapa kali Korut menguji coba rudal jarak jauh di perairan dekat wilayah Korsel dan Jepang. Isu nuklir membuat negara-negara tetangga Korut, seperti Korsel dan Jepang, merasa terancam dan kedua adalah kecurigaan pihak Korut bahwa justru Korsel, Jepang dan Amerikalah yang sedang menyusun rencana militer strategis untuk menyerang Korut.
Kawasan ini sendiri secara tradisional berada dalam teritori dan pengawasan Amerika Serikat, Amerika tidak ingin ada Negara lain yang secara terang-terangan atau sembunyi berusaha untuk menganggu kepentingan mereka di kawasan ini. Amerika punya sekutu yang kuat, mereka berteman baik dengan Korea Selatan, Jepang dan Australia. Amerika juga punya kerjasama menyejarah dengan Inggeris dan Negara-negara persemakmuran di kawasan ini. Sementara Asean, bagi mereka bukanlah kekuatan apa-apa terlebih lagi mereka beranggapan Asean itu adalah Indonesia dan Indonesia itu dalam duapuluh tahun ke depan masih sangat kental dengan permasalahannya sendiri, demokrasi dan mengelola perkara korupsi. Diatas kertas Amerika adalah pemilik kawasan yang “sah” dan tidak mau ada yang mengganggu mereka.
Kekuatan Baru dan Ancaman Baru
China dengan perkembangan kemampuan ekonominya secara fakta telah menjadi suatu Negara adi daya baru di kawasan. Meski secara militer kekuatannya tidaklah terlalu menghawatirkan. Diatas kertas militer China masih berkutat dengan peralatan persenjataan Alutsista yang sudah kedaluarsa. Mereka tidak punya kemampuan berperang di luar daratan China sama sekali. Masalahnya kemajuan perekonomian China telah melahirkan berbagai tanggapan dari para tetangganya serta pengawas kekuatan di kawasan. Secara historis sikap “ agresif” China tersebut bisa dipahami dengan latar belakang sejarah dan keberhasilan negara tersebut membangun kekuatan ekonomi dan militer. ”China sudah terlalu lama menahan diri. Mereka merasa sejak dahulu selalu dipermalukan dan dilecehkan Barat,” Terlebih lagi China dan Jepang mempunyai sejarah perseteruan yang panjang. Permusuhan dua negara terjadi sejak perang China-Jepang pertama pada tahun 1890-an, kemudian Perang Dunia I dan II. Permusuhan memang sudah mengakar dan karatan.
Di tengah berbagai gejala yang dimunculkan oleh China, Jepang secara mengejutkan telah mengumumkan “musuh barunya” yakni China dan Korut. Pemerintah Jepang, Seperti diberitakan Kompas, Jumat (17/12), Jepang telah mengumumkan strategi pertahanan baru yang menempatkan China sebagai ancaman utama terhadap negara tersebut. Fokus kekuatan pasukan bela diri Jepang dipindah ke wilayah selatan, barat daya, dan pulau-pulau dekat China dan Taiwan. Panduan Program Pertahanan Nasional Jepang tersebut telah disetujui oleh kabinet dan akan menjadi panduan kebijakan pertahanan Jepang untuk 10 tahun mendatang.
Perubahan kebijakan pertahanan ini diumumkan hanya tiga bulan setelah terjadi konflik diplomatik terburuk dengan China akibat insiden tabrakan antara kapal nelayan China dan dua kapal patroli penjaga pantai Jepang, 7 September silam. Insiden itu terjadi di dekat gugus kepulauan yang disengketakan oleh Jepang dan China. Dalam panduan itu disebutkan, Jepang khawatir dengan anggaran pertahanan China yang terus meningkat, modernisasi angkatan bersenjatanya, dan sikap Angkatan Laut China yang makin asertif di Laut China Selatan dan Laut China Timur.
”Pergerakan China ini, ditambah dengan tidak transparannya isu-isu keamanan dan militer China, adalah kecenderungan yang membuat prihatin komunitas regional dan internasional,” demikian pernyataan dalam panduan pertahanan itu. Salah satu strategi yang akan dilakukan Jepang adalah mengurangi konsentrasi pasukan di wilayah utara. Sejak era Perang Dingin, Jepang menganggap ancaman utama datang dari Uni Soviet di utara sehingga memusatkan konsentrasi pasukan di Pulau Hokkaido di utara.
”Kami masih menempatkan banyak tank dan Pasukan Bela Diri Darat di Hokkaido, dan kini kami perlu memindahkannya ke pulau-pulau di barat daya,” tutur seorang pejabat senior Pemerintah Jepang sebelum panduan pertahanan itu diumumkan. Menurut panduan baru itu, Jepang juga khawatir dengan ancaman serangan peluru kendali (rudal) dari Korea Utara (Korut), yang sudah mampu membuat bom nuklir. Korut pun memiliki rudal balistik yang mampu menjangkau wilayah Jepang.
Demikian juga dalam mengantisipasi ancaman Korut, Jepang berencana menggelar lebih banyak lagi sistem pertahanan rudal antirudal Patriot di seluruh wilayahnya. Negara itu akan menambah armada kapal yang dilengkapi sistem pertahanan antirudal balistik Aegis dari empat kapal menjadi enam kapal. Jepang juga akan menambah armada kapal selam dari 16 menjadi 22 kapal dan menambah satu kapal perusak lagi sehingga total armada laut Jepang menjadi 48 kapal perang. Pesawat-pesawat tempurnya pun akan ditingkatkan kemampuannya.
Bagi Asean perubahan persepsi ancaman yang ada di kawasan tentu saja akan memberikan pola dan kerjasama baru. Indonesia sendiri yang sejak tahun 60 an sebenarnya telah lama menempatkan China sebagai musuh utamanya, terlebih lagi setelag peristiwa G30S, China selalu dipersepsikan sebagai Negara “musang” yang setiap saat siap menggelar kekuatannya dari utara. Asean sendiri juga mempunyai Negara anggota yang secara tradisional mempunyai hubungan emosional yang baik dengan China dan tetap menjadi sekutu dekatnya.
Namun satu hal yang perlu di garis bawahi adalah sebagai Negara adi daya baru china akan membutuhkan Energi yang sangat besar dan itu ada di wilayah Indonesia. Kalau dilihat dari kacamata ini maka Indonesia mau tidak mau pasti akan tetap mempertahankan kerjasama energinya lagi secara lebih kuat dengan Amerika Serikat. Indonesia pasti memilih perusahaan Amerika untuk melakukan eksploitasi energy di kawasan kepulauan Natuna dan memantapkan kerjasamanya lewat Freeport, papua. Indonesia tidak akan punya pilihan lain kecuali menjadikan Amerika sebagai partner energinya.
Persoalannya China sangat memerlukan kandungan energy yang ada di cekungan kepulauan Spratly dan di sana china mempunyai klaim yang sama dengan beberapa Negara Asean yakni Malaysia, Filipina, Brunei, dan Vietnam. Dalam berbagai hal Asen sudah melakukan berbagai pendekatan kepada para pihak agar masalah Spratly bisa diselesaikan secara damai, dan Asean menghendaki agar China mau merundingkan lewat kerangka kerjasama kawasan Asean-China; sementara China menghendaki melakukan penyelesaiaannya secara bilateral, langsung dengan Negara yang bersangkutan.
Dalam hal seperti ini, Asean harus memanfaatkan kearifan lokalnya, jangan sampai ikut menjauhi China dan malah mendekati Amerika. Asean harus menempatkan China sebagai pemilik kawasan yang sah dan memang pantas memperoleh berbagai kerjasama yang lebih baik dengan Negara-negara yang ada di kawasan. China juga harus memberikan respek yang baik terhadap Negara-negara kecil tetangganya dan melindungi kepentingannya tanpa mencederai kepentingan nasional negera-negara kecil tersebut. Bila tidak, kawasan ini pasti akan jadi kawasan yang melahirkan sengketa-sengketa baru di masa yang akan datang.






