Konflik Kawasan, Konflik di Laut China Selatan
Ada dua berita yang dilansir oleh media terkait perkembangan konflik di Laut China Selatan pertama janji China yang tidak akan memerangi negara lain dan satunya lagi Filipina yang memperkuat armadanya di sana.
BEIJING, RABU (kompas/8/9/2011)- Pemerintah China meminta negara lain tidak mengkhawatirkan peningkatan kekuatan armada perangnya saat ini. Dengan kemampuan persenjataannya sekarang, China memastikan diri ”tidak menyerang negara lain, kecuali mereka diserang terlebih dahulu”.
Hal itu disampaikan pejabat Kepala Kantor Urusan Luar Negeri Pusat China, Wang Yajun, Rabu (7/9), saat memaparkan rencana strategis (white paper) pengembangan pertahanan mereka. ”Kami tidak akan menginvasi, mengekspansi, atau bahkan memerangi negara lain. China tidak akan menyerang, kecuali kami diserang terlebih dahulu,” ujar Yajun.
Walaupun demikian, China menegaskan, pihaknya sama sekali tidak akan tawar-menawar terkait status dan keberadaan Taiwan sebagai salah satu bagian teritorialnya. ”Walau kami bersumpah pembangunan kekuatan pertahanan ini untuk tujuan damai, kami tidak akan pernah membiarkan Taiwan memisahkan diri dari China,” kata Yajun.
Selama ini Taiwan dianggap sebagai salah satu provinsi bagian China, yang sempat mbalelo tetapi tengah menunggu kesempatan tepat untuk bergabung kembali, bahkan jika perlu dengan cara paksa. Isu Taiwan juga kerap memicu ketegangan hubungan antara China dan negara adidaya lain, Amerika Serikat, menyusul rencana AS menjual sejumlah persenjataan ke Taiwan pada Januari 2010.
Untuk itu, China kembali menyerukan keberatannya atas rencana AS. China mengancam, jika jadi dilanjutkan, AS bakal menghadapi risiko memperburuk hubungannya dengan China. Keberatan itu dilontarkan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Jiang Yu.
”Kami dengan tegas menentang rencana penjualan senjata AS ke Taiwan. Kami meminta AS bisa benar-benar memahami sensitivitas isu itu, apalagi sekarang upaya perbaikan kembali hubungan China-AS terus dibangun,” ujar Yu.
Terbaru
Sebelumnya, Taiwan berharap membeli 66 pesawat tempur jenis F-16s model terbaru senilai 8 miliar dollar AS. Skuadron tempur F-16s itu direncanakan menggantikan jet-jet tempur lama mereka, yaitu jenis F-5. Persoalan menjadi lebih rumit menyusul perdebatan yang muncul di dalam negeri AS sendiri.
Perdebatan itu dipicu pernyataan salah seorang senator dari Partai Republik asal negara bagian Texas, John Cornyn. Texas adalah salah satu basis industri produsen senjata, yang juga produsen jet tempur F-16, Lockheed Martin Corp.
Menurut Cornyn, pembatalan penjualan jet-jet tempur ke Taiwan akan berdampak buruk pada ekonomi AS. Hal itu terutama terkait lapangan pekerjaan yang dapat dihasilkan dari pemesanan itu. Pada tahun 1979, AS mengalihkan pengakuan diplomatiknya terhadap Taiwan ke China dengan mengakui kebijakan ”Satu China”. Namun, AS juga mempunyai kewajiban membantu negara sekutunya itu (Taiwan) mempertahankan diri.
Rencana pembelian oleh Taiwan ditunda informal tahun 2006. Pada tahun 2009, Taiwan juga mengajukan permintaan untuk meng-upgrade 146 jet tempur lamanya jenis F-16 model A/B.(AFP/REUTERS/DWA)
Filipina Perkuat Armada Perangnya di Laut China Selatan
MANILA, KOMPAS.com - Pemerintah Filipina berencana membeli sejumlah helikopter dan membangun beberapa pangkalan radarnya. Menurut Menteri Anggaran Filipina Florencio Abad, pihaknya telah menyiapkan alokasi dana sebesar 117 juta dollar Amerika Serikat, yang didapat dari royalti ladang minyak dan gas bumi Malampaya, demi mendanai modernisasi armada perang mereka. Baik upaya modernisasi peralatan tempur militer Filipina, pembelian helikopter, dan pembangunan pangkalan-pangkalan radar baru memang sengaja dilakukan negeri itu demi melindungi kepentingan mereka di kawasan perairan Laut China Selatan.
Direncanakan, sejumlah pangkalan radar baru itu akan dibangun di sebelah timur Pulau Palawan, yang berada di wilayah perairan yang hingga saat ini masih dipersengketakan dengan China. Seperti diwartakan, China bersengketa dengan sejumlah negara seperti Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Taiwan di laut tersebut.
“Anggaran itu akan mendanai upaya peningkatan kapabilitas kekuatan bersenjata seperti diperlukan oleh angkatan bersenjata kami. Terutama dalam mempertahankan dan menggelar operasi teritorial termasuk menjaga dan melindungi kawasan perimeter di sekitar proyek sumber energi dan gas alam Malampaya,” ujar Abad. Mega proyek eksplorasi Malampaya senilai 4,5 miliar dollar AS, yang dioperasikan Shell Philippine Exploration itu diperkirakan mampu menghasilkan 2,7 triliun kaki kubik gas alam dan 65 juta barel minyak mentah.
Abad menambahkan, dengan anggaran itu Angkatan Udara Filipina bisa membeli setidaknya enam unit helikopter baru untuk keperluan patroli dan juga cari-penyelamatan (search and rescue). Selain mengawasi seputar Malampaya, armada perang itu juga dapat dioperasikan di sejumlah kawasan eksplorasi lain macam Reed Bank dan Laut Sulu.
Sementara Angkatan Laut Filipina juga diperkirakan akan mampu membangun empat pangkalan radar baru, yang bisa memonitor lalu lintas kapal sekaligus mencegah penyusupan di kawasan zona ekonomi eksklusif (ZEE)-nya. Lebih lanjut sekutu Filipina, Amerika Serikat, juga menjanjikan akan melengkapi keempat pangkalan radar baru Filipina itu dengan peralatan komunikasi dan pemantauan canggih.
Selama ini AS sedikitnya telah membantu 10 juta dollar AS untuk memperbarui kapal perang AL Filipina jenis frigate kelas Hamilton buatan AS. Dalam waktu dekat AL Filipina juga masih akan mendapatkan dua kapal perang sejenis sampai awal tahun 2012.





