Kawasan Perbatasan, Mungkinkah Perang Terbuka China-Jepang di Laut China

Oleh harmen batubara

Kalangan internasional tidak habis pikir dengan klaim China atas kepulauan Spratly di laut china selatan; China juga menegaskan, kawasan perairan sengketa berikut kepulauan di wilayah Laut China Selatan sebagai wilayah kedaulatan China yang ”tak terbantahkan”, apalagi dipertentangkan. Penegasan itu dilontarkan oleh juru bicara Kantor Urusan China-Taiwan, Yang Yi, 29 juni 2011. Pernyataan Yi diyakini sebagai reaksi keras China terhadap sikap Pemerintah Amerika Serikat, yang beberapa waktu sebelumnya berkomitmen membantu persenjataan Filipina demi mempertahankan klaim Filipina di perairan itu. China sangat tidak suka AS dilibatkan dalam sengketa tersebut.

Seperti kita ketahui selain Filipina, beberapa negara seperti Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Taiwan juga menjadi negara pengklaim (claimant states) atas kawasan tersebut. Selain enam negara pengklaim, banyak negara, termasuk AS dan sejumlah negara lainnya, seperti India, Jepang, Australia sangat berkepentingan dalam menjamin keberlangsungan kebebasan navigasi (freedom of navigation) di kawasan perbatasan ini.

China juga melontarkan kecaman pedas dan meminta dengan keras agar Pemerintah AS tidak ikut campur dalam sengketa kawasan tersebut. China berkeras ingin menuntaskan klaim tersebut secara bilateral. Sementara itu, peran dan keberadaan organisasi kawasan negara-negara Asia Tenggara, ASEAN, juga ikut dipertanyakan dan bahkan dinilai telah terpecah sehingga bukan tidak mungkin bakal dimanfaatkan China. Meski, belakangan klaim perpecahan di ASEAN dibantah Indonesia yang tahun 2011 mengetuai ASEAN.

China Minta Taiwan mendukung

Selain memberikan penegasan, China juga secara diplomatik meminta Taiwan bergabung bersama China untuk ikut bertanggung jawab menjaga kedaulatan wilayah perairan Laut China Selatan, yang tentu sekaligus bakal mendatangkan keuntungan bersama antara China dan Taiwan. Hal ini terkait pernyataan pemimpin Taiwan, Ma Ying Jeou yang menyatakan keinginannya agar kedua negara bisa bersama-sama mencari terobosan dalam mengatasi konflik yang terjadi di antara mereka selama ini.

Pukulan Ekonomi Bagi Jepang

Masalah sengketa kepulauan spratly ini justeru terlihat lebih emosional hal ini terlihat dari belum adanya upaya penyelesaian komprehensif. Situasi justeru memanas ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton pertengahan januari 2012 lalu menyatakan kepada Menlu Jepang waktu itu Fumio Kishida bahwa AS akan membela Jepang kalau terjadi kekerasan di wilayah sengketa sesuai Perjanjian Keamanan AS-Jepang.

Bisa dipahami China pun meradang, kekhawatiran China tentang pengepungan strategis terhadap dirinya menjadi kenyataan. Jepang di satu sisi, secara komprehensif mengembangkan strategi diplomasi mempertahankan eksistensinya sebagai kekuatan maritim. Khususnya menjaga keamanan dan stabilitas pada wilayah dua lautan, Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, begitu juga dengan India dan Australia.

Kunjungan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke wilayah Asia Tenggara, di awal 2013 lalu, secara jelas menggambarkan upaya menggalang aliansi menghadapi kekuatan China yang semakin asertif serta diyakini tidak bisa tertandingi hanya oleh Jepang atau negara-negara ASEAN lainnya di kawasan ini. Meski demikian komitmen Jepang di Vietnam, Thailand, dan Indonesia, khususnya terkait dengan bantuan ekonomi dan keuangan dalam rangka mempererat hubungan bilateral, menjadi upaya lain untuk membantu perimbangan baru, menyangkut masalah di Laut China Timur dan Laut China Selatan yang diklaim oleh Beijing sebagai wilayah kedaulatannya.

Multilateralisasi persoalan klaim tumpang tindih kedaulatan China dan negara-negara di sekitarnya menjadi penting bagi Jepang untuk menyelesaikan persoalan sesuai aturan internasional, bukan melalui kekuatan militer. Kunjungan Abe dan pejabat tinggi Jepang ke Asia Tenggara menunjukkan kekhawatiran atas cara dan perilaku kebangkitan China sebagai adidaya di bidang ekonomi, perdagangan, dan militer. Cara China menekan Jepang melalui ekonomi dan investasi serta perilaku nasionalisme yang didukung penguasa Beijing menjadi pukulan keras bagi Jepang untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonominya.

Indonesia Sahabat Jepang dan China

Indonesia menjadi satu dari tiga negara di Asia Tenggara yang dikunjungi Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam rangkaian kunjungan pertamanya ke luar negeri sejak dilantik pada Desember 2012. Menurutnya saat ini lingkungan strategis di kawasan Asia Pasifik terus mengalami perubahan besar. Jepang sangat mementingkan kemitraan dengan ASEAN. Kali ini Abe mengunjungi Vietnam, Thailand, dan Indonesia, tiga negara yang akan menjadi bagian dari pusat pertumbuhan ekonomi abad ke-21, dengan demikian memperkokoh hubungan dengan negara-negara ini sangat penting bagi Jepang agar kami dapat berkontribusi bagi kestabilan dan perkembangan di kawasan ini.

Jepang dan Indonesia selama ini telah memperdalam hubungan batin di antara kedua negara karena Indonesia menghargai semangat gotong royong, sementara Jepang menjunjung semangat ”tasuke-ai”, yaitu semangat saling menolong. Dapat dikatakan Indonesia adalah kokoro-no-tomo, sahabat sejati Jepang, yang kini telah berbagi nilai-nilai dasar, seperti demokrasi dan berbagai keuntungan strategis.

Ketegangan antara Jepang dan China terkait sengketa Kepulauan Senkaku, beberapa bisnis Jepang di China terganggu dan mempertimbangkan untuk memindahkan basis produksi ke luar China. Kawasan Asia Pasifik merupakan ”pusat pertumbuhan perekonomian” pada abad ke-21 yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi dunia. Memastikan stabilitas dan kesejahteraan kawasan ini tidak hanya penting, tetapi juga membawa keuntungan bagi Jepang yang sedang ingin menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi di kawasan ini.

Kunjungan ke Asia Tenggara kali ini bertujuan memperdalam hubungan dengan negara-negara ASEAN yang semakin mengokohkan posisinya di dunia, dan mempererat hubungan kemitraan dengan Indonesia, Thailand, dan Vietnam, yang merupakan mitra strategis.

Kebangkitan China memang mengejutkan. Berbagai kemampuan yang dikembangkan China, khususnya kekuatan militer, didukung cadangan devisa masif sekitar 3,5 triliun dollar AS. Selama ini, banyak yang menduga dibutuhkan waktu tertentu (secara strategis setidaknya satu dekade) bagi China untuk mengembangkan kemampuan teknologi militernya.

Lewat aliansi strategis di Asia Tenggara yang ingin dibentuk Jepang, Abe berharap bisa meredam dan menyinkronkan kebangkitan China sesuai tata perilaku internasional dalam menjaga pertumbuhan dan kerja sama kawasan tanpa kekuatan hegemoni.

Keamanan dan stabilitas di Lautan Pasifik sampai ke Lautan Hindia, menjadi krusial bagi kelangsungan ekonomi dan perdagangan Jepang. Aliansi strategis Jepang-AS-India-Australia dianggap sebagai proyeksi kekuatan strategis untuk menjamin stabilitas di Laut China Timur sampai ke Laut China Selatan, dan hal ini menjadi prasyarat penting bagi Jepang dalam memproyeksikan kekuatan demokrasi maritim guna menjamin kebebasan navigasi di wilayah-wilayah itu.

Terkait ketegangan hubungan dengan China, Abe menyatakan, tercapainya perdamaian dengan China merupakan sesuatu yang positif bagi Jepang, terutama dalam bidang ekonomi. ”Kita bisa berkontribusi menciptakan kawasan yang lebih aman dan stabil karena hal itu menjaga kepentingan Jepang dan perdamaian di kawasan kita,” tuturnya. Bagi Indonesia ini sungguh sebuah peluang, yakni bagaimana meyakinkan Jepang dan China bahwa Indonesia adalah partner strategis dalam bidang ekonomi dan perdagangan dan menekankan pentingnya kawasan yang damai di Asia.

One Response to “Kawasan Perbatasan, Mungkinkah Perang Terbuka China-Jepang di Laut China”

  • kawasan on January 25, 2013

    Terkait ketegangan hubungan dengan China, Abe menyatakan, tercapainya perdamaian dengan China merupakan sesuatu yang positif bagi Jepang, terutama dalam bidang ekonomi. ”Kita bisa berkontribusi menciptakan kawasan yang lebih aman dan stabil karena hal itu menjaga kepentingan Jepang dan perdamaian di kawasan kita,” tuturnya. Bagi Indonesia ini sungguh sebuah peluang, yakni bagaimana meyakinkan Jepang dan China bahwa Indonesia adalah partner strategis dalam bidang ekonomi dan perdagangan dan menekankan pentingnya kawasan yang damai di Asia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge