Kawasan Bergolak, Libya Perang Saudara Yang Mematikan

Apa yang terjadi di Timur Tengah dan khususnya Libya, sebenarnya sudah pernah terjadi di belahan dunia manapun. Para diktator  mampu bertahan dengan membiarkan jutaan rakyatnya mati, baik karena kelaparan, pertikaian politik, maupun kekejaman penguasa. Stalin melakukannya di Rusia tahun 1930-an, Mao Zedong melakukannya pada tahun 1960-an mengikuti kegagalan pembangunannya, dan Kim Jong Il melakukannya selama dua dekade terakhir ini. Asia tenggara juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan Indonesia, Filipina, Kamboja dll.,  pada tahun-tahun 70 an; jutaan jiwa melayang sementara Dunia lainnya hanya bisa melihat dan mengelus dada.

Kini Libya bergolak. Belum ada tanda- tanda krisis ini akan segera berakhir. Kubu oposisi tetap yakin dengan tuntutannya menjungkalkan Moammar Khadafy. Semangat kubu oposisi ini meninggi dengan adanya dukungan langsung dari komunitas internasional, khususnya AS dan sekutunya dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).”Korban tewas di seluruh pelosok Libya sudah 6.000 orang lebih,” kata juru bicara Liga HAM Libya, Ali Zeidan, kepada AFP. Sekitar 3.000 orang tewas di Tripoli, 2.000 orang di Benghazi, dan 1.000 orang di sejumlah kota di Libya. Jumlah itu merujuk pada laporan penduduk.

Menurut Ali, ada ribuan tentara bayaran yang ditempatkan di Libya, termasuk 3.000 orang di Tripoli dan 3.000 orang di luar Tripoli. Tentara bayaran itu dipimpin para perwira Chad, negara tetangga Libya. Peran tentara bayaran itu muncul sejak protes yang dilancarkan kelompok antirezim Khadafy terjadi pada 15 Februari. Jumlah korban cedera akibat pertempuran antara kubu pro dan antirezim Khadafy juga bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah korban tewas. Orang-orang bersenjata yang berjaga di gerbang sebuah rumah sakit di kota Ajdabiya menyaksikan kedatangan para korban yang terluka.

Gelombang pengungsi

Suasana tegang, takut, cemas, dan mengharu biru melingkupi warga di rumah sakit itu. Para korban berdatangan dari kota Brega yang menjadi titik serangan pasukan pro-Khadafy, Rabu.Sambil bersandar di dinding aula rumah sakit Ajdabiya, dokter Abdullah Adralsir menarik napas dalam-dalam. Ia baru saja pulang dari Brega, 80 kilometer dari Ajdabiya atau 200 kilometer dari Benghazi, kota terbesar kedua setelah Tripoli.

Pasukan Khadafy dengan pesawat tempur membombardir kota pelabuhan utama dan terminal ekspor minyak Marsa El Brega (Brega) di Libya timur. Bom jatuh antara pelabuhan dan permukiman warga. Asap hitam mengepul. Bentrokan antara massa pro dan anti-Khadafi dijawab Angkatan Udara Libya dengan membombardir kilang minyak dan kota Brega. ”Kami melihat pesawat tempur loyalis Khadafy terbang di atas Brega, kemudian bom dijatuhkan dan kepulan asap pekat membubung,” ungkap Tony Birtley, repoter TV Al Jazeera.

Barat Masih Bingung

Beberapa sekutu AS di NATO juga mengingatkan agar gagasan pengenaan zona larangan terbang di atas angkasa Libya dipertimbangkan secara matang. Bahkan, Jerman memperingatkan agar Barat jangan terlalu dalam mencampuri urusan Arab. Selain di DK PBB, di NATO juga belum ada kata sepakat. ”Tidak ada kebulatan suara di NATO soal penggunaan kekuatan senjata,” kata Menteri Pertahanan AS Robert Gates.

Meski demikian, Sekretaris Jenderal NATO Anders Rasmussen mengatakan, NATO tetap merencanakan tindakan yang bijaksana dalam menghadapi semua kemungkinan. Sejauh ini tekanan internasional masih sebatas pembekuan aset-aset Libya di luar negeri. Tekanan lain adalah ancaman untuk mengusut kejahatan masa lalu Khadafy dan keluarga. Penuntut Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), Luis Moreno-Ocampo, Kamis di Den Haag, mengatakan, ICC akan menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia di Libya. Ini adalah salah satu cara untuk membuka arah ke penangkapan Khadafy.

Lepas dari berbagai skenario itu, Barat telah mengirimkan sejumlah kapal perang mendekat ke Libya. AS mengerahkan tiga kapal perang. Kanada hari Kamis juga mengerahkan kapal perangnya, HMCS Charlottetown, dari pelabuhan Halifax, Kanada timur, untuk bergabung dengan armada AS di Laut Tengah. Kapal itu membawa 225 tentara dan helikopter Sea King bertengger di dek kapal. Kapal perang Perancis pengangkut helikopter, Mistral, juga sudah mengarah ke lepas pantai Libya.

Sementara itu, Presiden Venezuela Hugo Chavez mengaku telah berbicara dengan Khadafy. Dia berbicara tentang sebuah upaya untuk meredakan krisis di Libya. ”Chavez siap tampil sebagai pelerai antarkubu yang bertikai di Libya,” kata Menteri Informasi Venezuela Andres Izarra melalui Twitter, Rabu. Chavez memiliki hubungan baik dengan Khadafy. Ia sudah mengajak sekutu-sekutunya di dalam dan luar Amerika Latin untuk membahas pembentukan blok pelerai—disebutnya Komite Perdamaian—untuk menengahi konflik Libya. Tidak disebutkan persis apa yang akan dilakukan Chavez. Barat juga bergeming soal niat Chavez itu.

Harga Minya Bergerak

Krisis di Libya, eksportir minyak pada urutan ke-12 dunia, menyebabkan penurunan produksi minyak dari 1,6 juta barrel menjadi 700.000 barrel per hari.Hengkangnya para pekerja minyak dan ancaman Khadafy melakukan bumi hangus jika Barat menyerang memperburuk sentimen di pasar minyak. ”Saya tidak melihat potensi tentang pengakhiran krisis secara damai untuk kategori pemimpin seperti Khadafy,” kata Samuel Ciszuk, analis Timur Tengah di IHS Energy, London, Kamis.

Khadafy merasa dikhianati Barat, padahal ia berkompromi dengan Barat, termasuk dalam perang melawan terorisme. Khadafy juga menegaskan, ia sangat dicintai rakyat, rela mati untuk melindunginya. Harga minyak jenis Brent sepat melejit ke level 116 dollar AS per barrel di London. ”Harga itu bisa melejit ke level 130 dollar AS per barrel. Produksi minyak Libya anjlok karena hengkangnya para pekerja asing,” kata Shokri Ghanem, Presiden National Oil Corporation di Tripoli.

Kenaikan harga minyak mengkhawatirkan banyak pihak di dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengingatkan, harga pangan yang mencapai rekor baru Februari lalu akan terus naik. Penyebabnya adalah kenaikan harga minyak, komponen utama sektor produksi. ”Kenaikan harga minyak akan memperburuk harga pangan yang sudah pada titik rawan. Ini membahayakan kondisi perekonomian di negara-negara berkembang,” kata David Hallam, Direktur Divisi Perdagangan dan Pemasaran FAO, di Roma. Kekhawatiran akan kondisi ekonomi di negara berkembang menyebabkan investor global menarik dana dari negara berkembang. Cameron Brandt, analis EPFR, mengatakan, pemodal mulai keluar dari negara berkembang. (Kompas,MI/AP/AFP/REUTERS/CAL/edition.CNN.com)

 

 

 

 

 

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
  • RSS Harmen Batubara.com

    • Income Infuser Review, Make Money thru Membership Site May 19, 2012
      The guys behind Income Infuser are Dave Nayavich and Darren Salkeld, they invested more than $25,000 into this platform and more than a year putting this thing together to make it work and to offer to the public. The software is custom configured “ Membership Site Out Of The Box Concept” so members can easily upload and be selling with their own sales letter […]
      batubara
    • Membersnap Review, Build Your Niche Membership Websites May 12, 2012
      We all know WITH MEMBERSHIP SITES it will give you incredible results and are a great source of residual monthly cash flow, and with Member Snap all the dream really come thru. Now the choice is yours. Ask yourself what kind of membership website you want to produce. What niche really that market need? Are you just copy your competitor and deliver more? What […]
      batubara
    • Get Cash For Surveys Review May 5, 2012
      Come inside, and you will find there are 288 Surveys available for you! Just join their GetCashForSurvey site, and you will see some of surveys waiting for you! If you need an additional income or extra cash, this is the opportunity! Especially if you love creative work and you are artistic enough, you will have the chance to express your opinion on several […]
      batubara