Islam Inklusif demi Kemajuan Kawasan
| Tokoh oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, menekankan perlunya memperluas inklusivisme Islam demi kemajuan ASEAN. Anwar di Jakarta, Minggu (26/9), mengatakan, kawasan ini merupakan satu-satunya tempat Islam menyebar secara inklusif tanpa menanggalkan inti ajaran. ”Islam Asia Tenggara memiliki sifat inklusif, toleran, dan akomodatif. Tetapi, nilai inti Islam tetap dijaga dan terpelihara,” ujar Anwar di hadapan peserta kuliah umum di Soegeng Sarjadi School of Government.
Dia menyayangkan perilaku politisi Malaysia yang memelintir isu penggunaan kata ”Allah” oleh warga Kristiani di Malaysia. ”Padahal, sejatinya dalam Surat Al Fatihah pun secara nyata dijelaskan mengenai kebesaran nama Allah untuk sekalian alam semesta. Mungkin para politisi itu tidak tahu Surat Al Fatihah,” ujar Anwar, tokoh oposisi Pakatan Rakyat. Anggota Parlemen dari daerah pemilihan Pematang Pauh itu mengatakan, banyak warga Muslim Asia Tenggara mengenal dan mengagumi cerita Mahabrata dan Ramayana. Islam menyebar bersama lestarinya cerita pewayangan di Asia Tenggara. Pengetahuan itu sebatas pemahaman kebudayaan dan tidak mengganggu sendi keagamaan. Ayah dari politisi Nurul Izzah Anwar itu menjelaskan, Islam di Malaysia menjadi agama negara. Akan tetapi, pelaksanaan Islam di Malaysia tidak kaku. Pembangunan agama lain, ujar Anwar, berjalan bebas. Mengganggu atau menghina agama lain di Malaysia merupakan pelanggaran konstitusi.
Beberapa waktu lalu terjadi upaya mengadu domba masyarakat di Malaysia. Ada kasus pelemparan kepala babi hutan ke sebuah rumah ibadah, pembakaran sejumlah gereja, dan pelecehan dengan melempar kepala sapi ke kuil Hindu. Namun, masyarakat Malaysia tidak terpancing provokasi murahan itu. Bahkan, para pelaku provokasi yang tertangkap aparat diproses dan dihukum karena membahayakan kesatuan negara. Saat makan siang, Anwar menjelaskan lebih lanjut, pembahasan dan perkembangan Islam di Indonesia sangat bebas serta berlangsung alamiah. Kondisi itu berbeda dengan perkembangan dengan di Malaysia yang melembagakan agama. Memuji ulama Indonesia Anwar banyak memuji gagasan almarhum Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Majid yang menurut dia sangat mewakili inklusivisme Islam di kawasan. Anwar secara tegas menentang keras kelompok dan organisasi yang mengatasnamakan agama untuk melakukan tindakan kekerasan serta melawan peradaban manusia. ”Kita tidak memperjuangkan partai, melainkan kemanusiaan dan keadilan untuk semua,” ujar Anwar, yang menghimpun Partai Keadilan, Partai Islam Se-Malaysia (PAS), dan Partai Aksi Demokrasi (DAP). PAS berintikan warga Melayu, DAP disokong warga Tionghoa, dan Partai Keadilan memiliki anggota campuran lintas agama dan kaum. Anwar Ibrahim juga menekankan perlunya memperjuangkan toleransi secara luas. ”Bahasa Melayu adalah bahasa resmi di Malaysia. Tetapi, kemampuan bahasa Inggris juga penting dalam pergaulan internasional. Demikian pula kemampuan berbahasa Mandarin, Tamil, dan lain-lain,” ujar Anwar. Kubu penguasa di Malaysia selalu mengangkat isu chauvinisme Melayu untuk memperoleh simpati sesaat. Salah satu langkah yang diambil adalah kebijakan soal bahasa dan perlakuan khusus kepada suku Melayu. Anwar menegaskan, Pakatan Rakyat memperjuangkan kesejahteraan orang Malaysia secara keseluruhan. ”Selama ini kebijakan ekonomi untuk orang Melayu hanya dinikmati kerabat pejabat Melayu saja. Ini fakta,” ungkap Anwar. Ketidakadilan yang menimpa warga Negara Bagian Sabah dan Sarawak turut menjadi perhatian Anwar. Menurut dia, bagi hasil minyak dan gas dari Sabah dan Sarawak harus ditingkatkan. ”Desentralisasi lebih luas harus diterapkan di Sabah dan Sarawak,” Anwar mengakhiri percakapan. (ONG)
|






