Bagaimana Kawasan Asean Melihat China
oleh harmenbatubara
Berbagai fakta belakangan ini memperlihatkan kehawatiran negara-negara kawasan terhadap kegiatan China di wilayah ini. Kekhawatiran campur ketakutan negara-negara Asean tentang dominasi China, misalnya terkait pelaksanaan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA); anehnya dalam retorikanya justeru China berkeinginan agar negara-negara di kawasan ini jangan terlalu khawatir terhadap pembangunan kekuatan China. Misalnya pidato PM China Wen Jiabao, dalam kunjungan kenegaraannya ke Indonesia Mei 2011,menekankan dua kalimat penting yang memberikan indikasi sangat kuat tentang upaya kerja sama di kawasan Asia Tenggara.
Kalimat pertama, Wen Jiabao menyebut, ”… shou ren yi yu, buru shou ren yi yu (mengajari menangkap ikan daripada hanya memberikan ikan)….” yang intinya China mengindikasikan akan komitmen bantuan yang ingin diproyeksikannya di kawasan Asia Tenggara. Kalimat kedua yang juga penting dan menjadi perhatian bersama, Wen mengutip bagian dari kitab Dao De Jing yang berbunyi ”… zhiren zhe zhi, zi zhi zhe ming…”, yang berarti mereka yang mengerti /memahami orang lain adalah cerdas, dan mereka yang mengerti /memahami diri sendiri adalah bijaksana.
Kehadiran PM Wen Jiabao sebelum pelaksanaan KTT ASEAN dan menjelang KTT Asia Timur (AEM) seolah memberikan tanda atau isyarat yang jelas, ASEAN adalah bagian penting dari pertumbuhan ekonomi China. Dinamika regionalisme melalui mekanisme ASEAN+3 dan ASEAN+8 dalam AEM akan membuka babakan baru kerja sama internasional yang lebih damai dan saling menguntungkan di kawasan. Dalam konteks ini dan selama ini China selalu ingin untuk lebih dihargai. China ingin agar mereka ditempatkan pada posisi yang bersahabat melalui kebijakan yang mereka sebut sebagai heping jueqi (kebangkitan damai) yang terlihat dalam Inisiatif Chiang Mai dalam ASEAN+3 yang mampu ikut mempercepat pemulihan ekonomi dan keuangan negara-negara kawasan. Solidaritas China pun ditunjukkan dengan mempertahankan mata uang yuan untuk tidak didevaluasi.
Fakta Lain
Pada Agustus 2010, ASEAN mendesak China untuk menyetujui sebuah kode etik regional yang lebih mengatur dan mengikat semua pihak. Pada 2002, negara-negara pengklaim Spratly hanya membuat deklarasi bersama, yang dianggap kurang mengikat. Isinya agar para pihak tidak berbuat hal-hal yang bisa mengganggu stabilitas kawasan. Amerika sebagai kekuatan Dunia tentu juga tidak ingin kekuatan baru menggrogoti pengaruh mereka di kawasan ini. Secara terus terang AS mengatakan bahwa ” mereka menunggu sampai ASEAN dan China setuju untuk duduk bersama, hingga ASEAN siap mengajukan maksud dan tujuannya”. Nah kalau ada yang perlu dibantu. Maka tidak diragukan lagi AS selalu siap membantu. Hal itu dikatakan Duta Besar AS untuk Filipina Harry Thomas Jr di Manila, (4/10/2010).
Thomas menambahkan, kode etik semacam itu akan menjamin stabilitas serta kebebasan pelayaran dan perdagangan internasional. Pada akhir September, Presiden AS Barack Obama menggelar pertemuan dengan para pemimpin ASEAN di New York, AS. Sebelumnya, China memperingatkan agar AS tidak ikut campur tangan. China selalu menghindar untuk membicarakan sengketa Spratly dengan ASEAN secara bersama-sama. China lebih memilih perundingan bilateral dengan setiap negara pengklaim. Dalam beberap kesempatan China juga berkali-kali mengingatkan PBB agar tidak ikut campur dalam sengketa perairan Laut China Selatan, terutama di Kepulauan Spratly. Menurut China, PBB sama sekali tidak punya hak untuk ikut melibatkan diri di sana.(AFP/AP/Reuters/DHF)
Bagaimana Melihat China
Terkait konflik perbatasan di Spratly, pada tahun1988, sedikitnya 70 pelaut Vietnam tewas dalam pertempuran laut dengan China di dekat Kepulauan Spratly.China dan Vietnam sama-sama mengklaim Kepulauan Spratly dan Paracel sebagai bagian dari wilayah kedaulatan mereka. Sengketa berkepanjangan di Spratly juga melibatkan Brunei Darussalam, Malaysia, Taiwan, dan Filipina. Beberapa tahun belakangan, China makin agresif dalam mempertahankan klaimnya, yang meliputi hampir seluruh kawasan Laut China Selatan.April 2011, Filipina mengeluarkan tuduhan bahwa sikap agresif China tersebut merusak keamanan dan rasa kedamaian di kawasan.
Bisa dimaklumi kalau AS juga pasti ingin bicara. AS mengaku ”terganggu” dengan ketegangan yang terjadi di antara negara Asia ini. AS, yang tahun lalu menegaskan turut punya kepentingan dalam hal kebebasan jalur pelayaran di Laut China Selatan, mengharapkan semua pihak menemukan solusi damai atas sengketa tersebut.(AFP/AP/Reuters/DHF) Sekali lagi, China ingin agar negara-negara di kawasan ini jangan terlalu hawatir yang berlebihan terhadap China. Presiden China Hu Jintao menyerukan agar seluruh negara di kawasan Asia saling bekerja sama, terutama dalam hal keamanan wilayah dan kawasan. Hal itu diperlukan untuk menghindari perseteruan terkait klaim wilayah antarnegara.
Bagi kawasan, seruan itu dinilai membingungkan banyak pihak, lantaran China sendiri kerap memicu sengketa wilayah dengan tetangganya seirama dengan peningkatan signifikan perekonomian dan kekuatan persenjataan mereka akhir-akhir ini. Tawaran Hu dinilai sebagai sebuah konsep yang kabur. Pimpinan China itu menambahkan ”Kita sebaiknya bersama-sama mencari kesamaan sambil menangguhkan berbagai perbedaan yang ada, sekaligus meningkatkan keamanan bersama. Kita harus menolak mentalitas Perang Dingin dan pendekatan menang kalah”. Hu melontarkan hal itu dalam Forum Boao untuk Asia yang diikuti lima negara april lalu—China, Brasil, Rusia, India, dan Afrika Selatan.”Kita harus mendukung upaya membangun konsep keamanan baru, didasari oleh adanya kepercayaan yang saling menguntungkan, kesetaraan, dan koordinasi,” ujar Hu.
China tampak berupaya meredam kekhawatiran banyak negara atas agresivitasnya mengklaim kawasan yang berbenturan dengan banyak negara lain. Dalam sengketa di perairan Laut China Selatan, China berbenturan dengan beberapa negara yang dekat dengan AS seperti Filipina dan Vietnam. Selama ini, AS dikenal memiliki kekuatan armada angkatan laut yang dominan.
”AS tak ingin terjadi konflik, perang, dan juga tak akan berpihak.” AS berharap sengketa atas Kepulauan Spratly di Laut China Selatan bisa diselesaikan secara damai melalui dialog. Kepulauan Spratly, yang diduga mengandung cadangan besar minyak dan gas, diperebutkan oleh China, Taiwan, dan empat anggota ASEAN, yakni Filipina, Malaysia, Brunei, dan Vietnam. China bahkan mengklaim seluruh wilayah laut di sekitar kepulauan, jalur pelayaran penting, dan kaya ikan-(afp/dwa).




