ASEAN, Kuncinya Kepemimpinan
Oleh Muhammad Chatib Basri
Kita tahu ada semacam skeptisisme mengenai relevansi ASEAN ke depan. Apakah KTT sekadar tempat bertemu, membuat deklarasi, dan kemudian melupakannya? Apakah ASEAN masih relevan? Jika iya, bagaimana peranannya? Lebih spesifik lagi: bagaimana peranan Indonesia dalam ASEAN dan pentas global? Untuk menjawab itu, kita perlu melihat ASEAN dalam perubahan ekonomi global. Perubahan paling penting dalam ekonomi gobal dekade ini: bergesernya pusat perdagangan dunia dari Eropa dan Amerika Serikat ke Asia (Pangestu, 2010). Di masa depan dua pertiga perdagangan dunia akan berada di Asia. Prediksi ini tampaknya akan terbukti. Krisis keuangan global telah mengubah lokomotif perdagangan dunia dari AS ke negara yang memiliki surplus, yaitu Asia. Akibatnya: peran Asia menjadi sangat penting di dalam perekonomian global.
Di Asia sendiri perdagangan intraregional semakin meningkat dan didominasi oleh komponen dan jaringan produksi (production network). ASEAN punya peranan penting di sini. Wakil Presiden Boediono, dalam sambutannya di Axiata ASEAN Leadership Forum, Minggu kemarin, menyatakan, skala ekonomi ASEAN meningkat dari 700 miliar dollar AS (2003) menjadi 2,9 triliun dollar AS saat ini. Jika skala ekonomi diperluas—mencakup negara yang melakukan hubungan ekonomi dengan ASEAN—nilainya mencapai 15 triliun dollar AS.
Menguatnya peran Asia dalam ekonomi global membawa kita kepada pertanyaan: bagaimana ASEAN menempatkan dirinya dalam geopolitik global. Lebih spesifik lagi bagaimana Indonesia melalui ASEAN menempatkan diri dalam geopolitik global? Tak bisa dimungkiri, untuk jadi pemain penting di Asia dan global, ASEAN harus berinteraksi dengan China, Jepang, Korea Selatan, India—dan juga Australia dan Selandia Baru—jika kita ingin memasukkan Asia Pasifik. Sudah bukan rahasia, ada kompetisi diam-diam di Asia Timur, khususnya Jepang dan China. Melihat peta politik ekonomi internasional ini, ASEAN harus menempatkan diri jadi pusat (hub) yang menjembatani China-Jepang.
Siapkah kita?
Saya kira strategi yang dipilih sudah tepat: dengan menjalankan strategi ASEAN plus. Artinya pola hubungan perdagangan akan berpusat di ASEAN ditambah negara di luar ASEAN. Itu sebabnya strateginya ASEAN+1, ASEAN+2, dan seterusnya. Dengan menempatkan ASEAN sebagai hub, ASEAN dapat menikmati pola angsa terbang (flying geese pattern) di mana ASEAN akan ikut menikmati perkembangan ekonomi Jepang, Korsel, China, dan India. Di sisi politik, ASEAN bertindak sebagai ”penengah” dalam kompetisi diam-diam di Asia Timur. Dengan strategi ini, posisi ASEAN secara geopolitik akan menjadi sangat penting.
Namun, pertanyaannya: siapkah ASEAN memainkan peran ini? Persoalan klasik ASEAN adalah soal kepemimpinan. Tak ada negara yang berinisiatif memimpin. Dari sisi stabilitas politik, skala ekonomi, penduduk, keanggotaan di forum penting seperti G-20, yang paling potensial memimpin Indonesia. Tahun ini Indonesia ketua ASEAN. Peluang ini harus dimanfaatkan jika ingin berperan secara geopolitik dalam konteks ekonomi global.
Apa yang bisa dilakukan? Pertama, menyelesaikan pekerjaan rumah domestik. Integrasi ASEAN mensyaratkan adanya konektivitas di antara negara ASEAN agar arus barang, jasa, dan tenaga kerja dapat mengalir dengan mudah dari satu negara ke negara ASEAN lain. Artinya logistik infrastruktur harus diperbaiki. Di sini persoalan kita: infrastruktur logistik kita amat lemah. Pembangunan jembatan Malaysia-Indonesia tanpa perbaikan logistik Jawa-Sumatera hanya akan mendorong aktivitas ekonomi mengalir ke Malaysia dan Singapura dan membuat Jawa dan Sumatera ”terpecah secara ekonomi”. Alasannya: biaya logistik Jawa-Sumatera jauh lebih mahal dibandingkan Sumatera-Malaysia. Itu sebabnya: selesaikan soal infrastruktur logistik dalam negeri segera.
Kedua, efektifkan perjanjian kerja sama yang sudah dilakukan. Ironis, ketika krisis keuangan global 2008, Asia—termasuk ASEAN—justru tak memanfaatkan Chiang Mai Initiative (CMI) dan berpaling meminta bantuan dari Federal Reserve di AS. Ini artinya CMI tak efektif ketika krisis terjadi. ASEAN juga harus meningkatkan utilisasi AFTA. Tanpa itu kerja sama tak akan efektif. Jika ingin berperan dalam perdagangan global, ASEAN harus mendorong selesainya putaran Doha.
Penyelesaian putaran Doha akan membantu ASEAN dalam perdagangan intraindustri dengan negara Asia lain. Alasannya: tingkat tarif ASEAN sudah relatif rendah dibandingkan di luar ASEAN, seperti India. Saya saat ini terlibat dalam High Level Trade Experts Group yang dipimpin ekonom dunia Jagdish Bhagwati dan Peter Sutherland. Interim report kami yang diluncurkan di Davos awal 2011 oleh PM Inggris David Cameron, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden SBY juga merekomendasikan penyelesaian putaran Doha akhir 2011. Ini juga akan memudahkan perundingan ASEAN-EU karena EU Trade Commissioner Karel De Gucht juga amat mendukung rekomendasi ini. Tanpa Doha, persetujuan untuk menghilangkan subsidi pertanian oleh negara maju tak bisa direalisasikan. ASEAN akan dirugikan. Kita tahu salah satu ganjalan penyelesaian Doha adalah sikap AS.
Buruh migran dan pangan
Ketiga, dalam kaitan peningkatan perdagangan sesama anggota ASEAN, saya melihat Indonesia juga harus memperjuangkan pergerakan tenaga kerja yang bebas, termasuk buruh migran. Negara di ASEAN akan menghadapi masalah penduduk lansia. Dalam situasi ini, sumber tenaga kerja akan banyak tergantung kepada Filipina dan Indonesia. Karena itu, agenda ini amat penting bagi ASEAN di masa depan. Bagi kita, remitansi adalah sumber penerimaan devisa yang besar dan stabil, dan amat penting bagi Indonesia.
Keempat, ajakan Indonesia antisipasi harga pangan dan energi adalah langkah tepat. Era energi dan komoditas murah sudah berakhir. Sulit sekali mempertahankan harga pangan dan energi murah. Akibatnya penduduk miskin akan terpukul, termasuk di ASEAN. Apa yang bisa dilakukan? Tentu, pertama, kerja sama perdagangan agar tak terjadi larangan ekspor pangan yang dapat memacu kenaikan harga pangan. Selain itu perubahan skema subsidi dari subsidi barang ke subsidi orang. Kita sepakat: subsidi untuk penduduk miskin harus tetap dilakukan.
Di sisi lain kita juga tahu penyediaan pangan dan energi murah tak mungkin lagi dilakukan tanpa menimbulkan gangguan stabilitas fiskal dan salah sasaran dalam subsidi. Itu sebabnya skema subsidi harus diubah dari subsidi barang ke subsidi orang miskin. Ini juga mendukung komitmen kita soal perubahan. Caranya: naikkan harga BBM dan alokasikan dalam bentuk BOS, BLT, PNPM, dan sebagainya. Indonesia sudah punya pengalaman dengan ini pada 2005 dan 2008. Jika serius dalam agenda mengatasi harga pangan dan energi, berikan contoh. Berani dan konsistenkah kita? Di sini aspek kepemimpinan Indonesia jadi penting. Indonesia punya kesempatan memegang peranan penting dalam ASEAN dan global. Prasyaratnya: kepemimpinan.
Muhammad Chatib Basri Pendiri CReco Research Institute (Kompas/ /11/5/2011)




